
Gaza,batamtv.com, – Tony Blair Institute, sebuah lembaga think tank yang didirikan eks Perdana Menteri Inggris Tony Blair, dilaporkan terlibat dalam cetak biru pembersihan etnis di Gaza. Detail keterlibatan Tony Blair Institute tersebut terungkap dari investigasi yang dilakukan oleh Financial Times dan dirilis pada Minggu (6/7/2025).
Investigasi tersebut mengungkapkan bahwa ada skema untuk merelokasi paksa hingga 500.000 warga Palestina dan mengubah Gaza menjadi zona investasi mewah yang dijuluki “Gaza Riviera”.
Skema itu sendiri dikembangkan oleh pengusaha Israel dan dimodelkan oleh Boston Consulting Group (BCG), sebagaimana dilansir Middle East Monitor. BCG mengembangkan model keuangan yang memperkirakan biaya pemindahan hingga 500.000 warga Palestina dari Gaza sebagai bagian dari proyek yang secara internal diberi label “Aurora”.
Bersamaan dengan penyusunan skema tersebut, para staf Tony Blair Institute disebut berpartisipasi dalam grup pesan dan panggilan perencanaan, di mana mereka menyebarkan proposal internal untuk transformasi ekonomi Gaza pascaperang. Proposal-proposal ini mencakup visi “Gaza Riviera”, pulau-pulau buatan yang dimodelkan berdasarkan pembangunan di Dubai, zona perdagangan berbasis blockchain, dan pusat manufaktur dengan pajak rendah
Meskipun Tony Blair Institute kemudian menjauhkan diri dari rencana akhir, partisipasinya yang terdokumentasi tersebut telah menimbulkan kekhawatiran serius tentang keterlibatannya dalam upaya merekayasa ulang demografi Gaza dengan kedok rekonstruksi.
Menurut Financial Times, BCG dipekerjakan pada Oktober 2024 oleh Orbis, kontraktor yang berbasis di Washington, untuk membantu mendirikan Yayasan Kemanusiaan Gaza atau GHF yang kontroversial. GHF merupakan proyek penyaluran bantuan yang didukung Israel dan AS namun membuat lebih dari 600 warga Palestina yang mencari makanan tewas terbunuh. Operasi bantuan tersebut dimiliterisasi, dikelola oleh kontraktor swasta AS, dan dijaga oleh pasukan Israel.
Organisasi-organisasi kemanusiaan juga memboikot skema penyaluran bantuan tersebut, sementara PBB telah menyebut GHF sebagai “kedok” untuk tujuan perang Israel. Dalam pemodelan internal, BCG menghitung bahwa merelokasi warga Palestina dari Gaza akan lebih murah 23.000 dollar AS (Rp 374 juta) per orang daripada membantu mereka di tempat.
Salah satu skenario memproyeksikan 25 persen populasi Gaza, sekitar 500.000 orang, akan pergi “secara sukarela” dengan “paket relokasi” senilai 9.000 (Rp 146 juta). Namun, para kritikus mengatakan rencana apa pun untuk “memberi insentif” kepada warga Palestina agar meninggalkan Gaza sama saja dengan pemindahan paksa, yang dilarang oleh hukum internasional.
Tony Blair Institute pun menyangkal pihaknya menyusun cetak biru berjudul “The Great Trust” tersebut. Namun, lembaga itu mengakui bahwa dua stafnya ikut serta dalam panggilan telepon perencanaan dan grup pesan yang membahas masa depan Gaza. Rencana tersebut mencakup proposal untuk pulau buatan, kawasan ekonomi khusus, dan pengembangan sektor teknologi. Meskipun Tony Blair Institute membantah mendukung relokasi penduduk, keterlibatan stafnya dalam kelompok perencanaan telah menimbulkan kekhawatiran.
Phil Reilly, mantan agen CIA yang kini memimpin keamanan GHF, dilaporkan mengajukan proyek tersebut kepada Tony Blair pada bulan Maret.
Meskipun Tony Blair Institute mengeklaim bahwa Blair “berada dalam mode mendengarkan”, lembaga mengakui bahwa stafnya ikut meninjau cetak biru ekonomi tersebut.
Seluruh skema tersebut dipersiapkan untuk dipresentasikan kepada sejumlah tokoh dalam pemerintahan Presiden AS Donald Trump dan negara-negara Teluk sekutunya. Trump sebelumnya menganjurkan agar Gaza diubah menjadi “Riviera Timur Tengah” dan memindahkan penduduknya.
Warga Palestina berkerumun di titik distribusi bantuan yang didirikan oleh Yayasan Kemanusiaan Gaza (GHF) yang dikelola swasta, dekat kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada tanggal Rabu (25/6/2025).(AFP/EYAD BABA)
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : Kompas.com










































