SMAN 3 Batam Masih Dianggap Unggul dan Menjadi Favorit

0
Syarifah Silvia Andriyani, S.Pd., M.M (Foto; Azura Aronita/batamtv.com)

Batam,batamtv.com- SMA Negeri 3 Batam masih dianggap unggul dan menjadi favorit bagi sebagian orang tua murid di Kota Batam. Meskipun sudah diterapkan sistem zonasi, para orang tua tetap berbondong-bondong memasukkan anaknya di SMAN 3 Batam.

” Orang taunya kan SMA 3 ini, sekolah unggulan, sekolah favorit, banyak menghasilkan anak-anak yang sukses. Masuk perguruang tinggi negeri di mana-mana diterima. Menghasilkan anak-anak yang berprestasi. Baik akademik maupun non akademik. Guru-gurunya juga luar biasa,” ujar Kepala Sekolah SMA Negeri 3 Batam Syarifah Silvia Andriyani, S.Pd., M.M saat berbincang santai dengan awak media di SMAN3 Batam, Rabu (16/10/2024).

Mungkin itu salah satu alasan mengapa para orang tua ingin anaknya diterima di SMAN 3 Batam. Sehingga setiap musim PPDB banyak orang yang berbondong-bondong mendaftarkan anaknya di SMAN 3. Tak peduli dia tinggal dimana. Apakah anak dia berprestasi atau tidak. Pokoknya bagaimana caranya anak bisa diterima di SMAN 3 Batam. Namun tidak semua yang mendaftar bisa diterima karena keterbatasan daya tampung.

” Tapi kadang-kadang bagi sebagian orang menganggap itu arogan. Terlalu berlebihan dan kaku. Padahal kami hanya menjalankan aturan yang sudah ditetapkan. Bagi saya selagi masih bisa dibantu, maka kewajiban bagi saya untuk membantu. Sepanjang kuota mencukupi. Karena kuota itu sudah ditetapkan oleh pusat, tidak bisa kami mengubahnya. Bagi anak-anak yang tidak bisa diterima di SMAN 3 karena kuota sudah penuh, masih ada sekolah penyangga seperti SMAN 26 atau SMA 15 yang letak juga tak jauh dari SMAN 3. ,” ujar Syarifah.

Syarifah mengungkapkan, SMAN 3 pernah didatangi pihak Direktorat Jakarta mensurvei kelas sesungguhnya. Dari hasil survei tersebut, ternyata SMAN3 dianggap melanggar ketentuan karena telah melebihi jumlah kelas menjadi 15 kelas. Penambahan kelas itu dilakukan karena Provinsi Kepri tak ingin ada keributan saat PPDB maka ditambahlah jumlah kelas. Sedangkan kelas yang dipakai untuk belajar adalah labor dan itu tidak layak.

” Sejak saat itu kami mengurangi jumlah kelas dari 15 menjadi 12, sampai sekarang. Lagi pula SMAN3 tidak memiliki lahan untuk penambahan kelas. Yang ada hanya merevitalisasi bangunan yang sudah ada. Itu yang saya benahi pertama kali saat saya menginjakkan kaki di sekolah ini,” ujar Kepsek senior ini.

Soal wacana penghapusan uang SPP oleh Pemprov Kepri, ia mengatakan bukan wacana lagi tapi sudah dimulai sejak Juli 2024. Sekolah tidak lagi memungut uang SPP sejak tahun ajaran baru kemarin. Tapi untuk operasional sekolah masih dicover dana BOS. ” Kalau ditanya apakah cukup, ya kita cukup-cukup kan. Mungkin kita akan dahulukan yang sifatnya skala prioritas. Untuk hal-hal yang tidak terlalu penting kita kurangi, ” ujarnya.

Bagi Syarifah, dirinya hanyalah abdi negara yang siap ditempatkan dimana saja. Kalau pimpinan memberinya amanah sebagai Kepala Sekolah, ia akan jalankan amanah itu sebaik mungkin. Tapi kalau tidak ia akan kembali masuk kelas menjadi guru seperti biasa.

Penanggungjawab : Oktarian

Editor                   : Sofyan Atsauri

Reporter                : Azura Aronita