
Noumea,batamtv.com, – Banyak orang Indonesia, terutama etnis Jawa, mengenal negara Suriname. Negara di pesisir utara Amerika Selatan ini dikenal karena banyaknya keturunan Jawa di sana. Namun yang jarang orang tahu, ada negara selain Suriname yang memiliki jejak etnis Jawa. Negara tersebut adalah Kaledonia Baru.
Kaledonia Baru merupakan wilayah otonomi Perancis di yang terletak di tengah Samudera Pasifik, tepatnya di utara Selandia Baru dan sebelah timur laut Australia.
Wilayah Kaledonia Baru berbentuk kepulauan dengan pulau terbesar bernama Grande Terre. Luas wilayahnya mencapai 18.676 kilometer persegi. Berdasar sensus penduduk pada 2019, sekitar 271.407 orang bermukim di kepulauan tersebut. Mayoritas populasinya adalah keturunan Melanesia sebesar 41,21 persen.
Selain itu, 1,4 persen populasi atau sebanyak 3.789 orang adalah keturunan Indonesia, terutama Etnis Jawa. Dilansir dari BBC Indonesia, Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Noumea Bambang Gunawan mengungkapkan, warga keturunan Indonesia membentuk komunitas sendiri yang dinamakan Persatuan Masyarakat Indonesia dan Keturunannya (PMIK).
Kehadiran etnis Jawa di Kaledonia Baru tak lepas dari era kolonialisme Perancis di negara tersebut. Pada 1860-an, Perancis membawa buruh dari pulau-pulau tetangga, termasuk dari Jepang dan Hindia Belanda (Indonesia saat ini) ke sana.
Bambang mengatakan, kedatangan orang-orang dari Jawa ke Kaledonia Baru dimulai pada 1896 untuk dipekerjakan di sektor perkebunan. “Jadi sejarahnya mirip dengan orang-orang Jawa yang ada di Suriname,” kata Bambang dilanisr dari BBC Indonesia.
Pengamat Budaya dan Bahasa Jawa di Kaledonia Baru dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Subiyantoro menjelaskan, migrasi orang Jawa ke wilayah itu ditandai dengan dikirimnya 170 orang oleh pemerintah kolonial Belanda atas kesepakatan yang dibuat dengan Perancis pada 16 Februari 1896.
Mereka diperkerjakan sebagai kuli kontrak karena penduduk asli Kaledonia Baru sulit diajak kerja sama. Gelombang pengiriman terjadi dalam kurun waktu 55 tahun sejak 1896 hingga 1949. Totalnya, sekitar 19.510 orang kuli dari Jawa dikirim dengan 87 kapal.
Sebagian dari para pekerja itu memilih untuk menetap dan menikah dengan warga lokal.
Pencampuran budaya Subiyantoro menuturkan, menetapnya etnis Jawa di Kaledonia Baru memunculkan percampuran budaya yang terjadi selama delapan hingga sembilan generasi.
“Jawa sebagai identitas yang dia bawa dari negeri asalnya dan identitas tuan rumah, yakni Kanak Perancis,” ujar Subiyantoro.
Keturunan Jawa di Kaledonia Baru, menuturkan bahasa Jawa versi mereka yang disebut bahasa Jawa Kaledonia Baru (BJKB), yang telah bercampur dengan bahasa Perancis. Banyak pula kata-kata serapan dari bahasa Perancis yang digunakan diaspora Indonesia saat berbahasa Jawa.
“Ketika mengatakan kalimat ‘ini adalah ikan yang dilindungi’, bahasa Jawa-nya adalah ‘iki iwak sing dilindungi’. Namun dalam BJKB, kalimat tersebut berubah dan berbunyi menjadi ‘iki posong sing diproteze’,” kata Subiyantoro mencontohkan.
Subiyantoro mengatakan, keturunan Jawa di Kaledonia Baru juga hanya menggunakan bahasa Jawa ngoko, meski lawan bicara mungkin baru dikenal atau lebih tua. Ia mengatakan, hal ini dilakukan keturunan etnis Jawa di sana untuk menyederhanakan bahasa kedua mereka agar lebih mudah untuk belajar bahasa Perancis.
Merasa dekat dengan orang Indonesia Subiyantoro menuturkan, dari sisi budaya, orang Kaledonia Baru merasa dekat dengan orang Jawa di Indonesia.
“Sayangnya, banyak (orang Indonesia) yang tidak tahu tentang Kaledonia Baru,” papar Subiyantoro. Dalam konteks saat ini, Bambang menyatakan, budaya Jawa masih sangat kental di kalangan Warga Negara Indonesia (WNI) dan diaspora Indonesia yang tinggal di Kaledonia Baru.
“Tradisi nyekar, mengunjungi makan leluhur sebelum puasa. Di sini juga masih ada yang melakukannya, sama seperti di Indonesia. Terus kemudian tradisi lain masih tetap ada,” ucapnya.
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : Kompas.com










































