
Jakarta, batamtv.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi peluang besar untuk menggerakkan perekonomian petani, peternak, dan pelaku usaha pangan lokal.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan program MBG dengan sasaran sekitar 58 juta penerima manfaat memiliki potensi pasar yang besar. Dengan alokasi bahan baku senilai Rp10.000 per porsi, kebutuhan pangan untuk program ini mencakup karbohidrat, sayuran, buah-buahan, serta protein hewani dan nabati.
Hal tersebut disampaikan Sudaryono dalam Opening Ceremony dan Nusantara AgriFuture Summit NLP & Indogritech 2026, Rabu (4/11/2026). Menurutnya, besarnya kebutuhan bahan pangan dalam program MBG dapat menjadi peluang bagi pelaku usaha pertanian untuk meningkatkan produktivitas dan memperluas pasar.
Ia menegaskan, pemerintah ingin menjadikan MBG sebagai instrumen untuk menjaga stabilitas harga pangan. Dengan demikian, konsumen tidak terbebani harga yang terlalu tinggi, sementara petani dan peternak tetap memperoleh pendapatan yang layak ketika harga komoditas mengalami penurunan.
Untuk mendukung hal tersebut, BGN tengah menyiapkan sistem pengadaan pangan secara daring melalui platform Loka MBG. Sistem ini dirancang agar asosiasi dan koperasi peternak dapat memasok kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara langsung tanpa melalui perantara.
Salah satu penerapannya adalah mengoptimalkan penyerapan telur untuk kebutuhan menu MBG ketika harga di pasaran mengalami penurunan. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu menjaga harga jual di tingkat peternak.
BGN juga melakukan penyesuaian kebijakan penyediaan susu dalam program MBG. Jika sebelumnya komposisi susu minimal ditetapkan sebesar 20 persen, kini kandungan susu segar diwajibkan mencapai minimal 80 persen.
Kebijakan tersebut diharapkan mendorong peningkatan produksi susu dalam negeri. Pasalnya, saat ini ketersediaan susu segar lokal baru mampu memenuhi sekitar 20 persen dari total kebutuhan.
Sudaryono menegaskan, keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari manfaat yang diterima masyarakat sebagai penerima makanan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan para produsen pangan lokal. Pemerintah ingin memastikan petani dan peternak turut merasakan manfaat dari pelaksanaan program tersebut.
Sumber : InfoPublik










































