Batam — Suasana salah satu kafe di kawasan Batam Centre, akhir pekan lalu, berlangsung relatif tenang.
Aktivitas pengunjung tidak terlalu ramai. Di tengah suasana tersebut, saya bertemu secara tidak sengaja dengan Budi Ginting, seorang praktisi pemasaran yang selama ini berkecimpung di berbagai bidang, mulai dari produk kesehatan, kecantikan, properti hingga otomotif.
Pertemuan yang berlangsung tanpa rencana itu kemudian berkembang menjadi perbincangan ringan mengenai kondisi ekonomi nasional, khususnya mengenai nilai tukar rupiah dan dampaknya terhadap perekonomian masyarakat.
Dalam perbincangan itu, Budi menyampaikan pandangannya bahwa pelemahan rupiah bukan persoalan yang tidak dapat diatasi.
“Soal rupiah anjlok yang menjadi salah satu pemicu lesunya ekonomi bangsa ini masih bisa diatasi,” ujar Budi dengan nada optimistis.
“Maksud Anda?” tanya saya.
Budi Ginting kemudian menyampaikan gagasannya mengenai target penguatan nilai tukar rupiah.
“Keterpurukan ekonomi bangsa kita ini masih bisa diselamatkan. Nilai tukar rupiah yang anjlok masih bisa dipulihkan menjadi Rp10.000 per satu dolar AS dan Rp7.000 per satu dolar Singapura,” katanya.
Target tersebut merupakan pandangan dan optimisme pribadi Budi. Ia belum memaparkan secara terbuka dalam perbincangan tersebut mengenai perhitungan ekonomi, instrumen kebijakan, maupun tahapan teknis yang diperlukan untuk mencapai level nilai tukar tersebut.
Lalu, saya bertanya mengenai cara mewujudkan gagasan tersebut.
Menurut Budi, diperlukan political will tingkat tinggi dari pemerintah, khususnya Presiden Prabowo Subianto.
Ia menilai kewenangan pemerintah pusat melalui kebijakan ekonomi dapat menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas dan memperkuat nilai tukar rupiah.
Budi bahkan memperkirakan kebijakan yang menurutnya tepat dalam memperkuat rupiah dapat berdampak terhadap penciptaan lapangan pekerjaan.
“Kalau Presiden Prabowo mau menjalankan kebijakan sesuai dengan ide saya ini, saya optimistis penguatan nilai tukar rupiah mampu menciptakan lapangan pekerjaan dua juta orang setiap tahun dan tentu saja meningkatkan daya beli masyrakat,” ujarnya.
Namun, angka dua juta lapangan pekerjaan tersebut merupakan estimasi atau keyakinan Budi dan dalam perbincangan itu belum disertai kajian, model perhitungan, ataupun data pendukung yang dapat diverifikasi secara independen.
“Apa ide Anda dan Presiden harus ngapain?” tanya saya merespon Budi Ginting yang berapi api menyampaikan gagasannya.
Budi menjawab bahwa gagasannya relatif sederhana. Ia mengaku ide tersebut kemungkinan pernah dipikirkan oleh pihak lain, tetapi menurutnya perlu disampaikan secara langsung kepada Presiden.
“Ide saya soal penguatan rupiah sederhana dan mungkin ada orang yang pernah memikirkannya. Namun, ide ini harus disampaikan langsung kepada Presiden, tidak bisa diwakilkan,” kata Budi.
Ia bahkan mengaku hanya membutuhkan waktu sekitar tiga menit untuk menjelaskan gagasannya kepada Presiden.
“Hanya butuh tiga menit mempresentasikan ide saya ini kepada Presiden. Kalau langsung dijalankan, pada tahun kedua rupiah mulai menguat dan perekonomian berangsur membaik,” ujarnya.
“Anda harus minta waktu Presiden 10 menit saja. Dan itu harus terwujud. Kalau untuk kebaikan bangsa, saya yakin ada jalannya, ” saran saya memberikan dukungan.
Budi berharap gagasannya dapat segera disampaikan kepada Presiden. Menurut dia, faktor waktu menjadi salah satu pertimbangannya.
“Kalau 2028 tahun politik, fokus dan konsentrasi bergeser ke pemilu,” katanya.
Nilai Tukar Rupiah dan Tantangan Ekonomi
Perbincangan tersebut menarik karena nilai tukar rupiah memang menjadi salah satu indikator penting dalam perekonomian Indonesia.
Pergerakan rupiah dipengaruhi banyak faktor, antara lain kebijakan moneter, arus modal, kondisi neraca perdagangan dan transaksi berjalan, inflasi, suku bunga, kondisi pasar keuangan global, serta pergerakan dolar AS.
Karena itu, target penguatan rupiah ke level tertentu tidak hanya bergantung pada keputusan pemerintah. Bank Indonesia sebagai bank sentral memiliki mandat menjaga stabilitas nilai rupiah, termasuk melalui kebijakan moneter dan berbagai instrumen stabilisasi nilai tukar.
Di sisi lain, pemerintah memiliki peran melalui kebijakan fiskal, perdagangan, investasi, industri, energi, serta kebijakan ekonomi lainnya yang dapat memengaruhi fundamental perekonomian.
Dengan demikian, gagasan untuk memperkuat rupiah membutuhkan penjelasan lebih jauh mengenai instrumen kebijakan yang akan digunakan, dampaknya terhadap inflasi, ekspor-impor, cadangan devisa, investasi, daya saing industri, serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.
Target rupiah pada level Rp10.000 per dolar AS juga perlu ditempatkan sebagai gagasan atau target kebijakan, bukan sebagai angka yang otomatis dapat dicapai hanya melalui keputusan politik.
Meski demikian, optimisme Budi menunjukkan adanya pandangan dari kalangan pelaku usaha dan praktisi pemasaran bahwa penguatan nilai tukar dapat memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi, terutama jika dibarengi peningkatan produksi nasional, investasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan daya beli masyarakat.
Budi Ginting berharap gagasannya tersebut mendapat kesempatan untuk diuji dan dipresentasikan langsung kepada Presiden.
Penulis : Ronny Alimin (editor batamtv.com)














































