
Nanjing, batamtv.com – Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) mendorong organisasi pers negara-negara Global South untuk memperkuat jaringan internasional dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi guna mengatasi ketimpangan pemberitaan global.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri PWI Pusat, Aldi Gultom, dalam seminar bertajuk Seminar on Global South Media Exchange and Cooperation Joint Voice: Elevating the Discourse Power of the Global South di Nanjing International Youth Convention Hotel, Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, Jumat (16/10/2026).
Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Belt and Road Journalists Forum 2026 yang melibatkan sekitar 200 wartawan internasional dari berbagai benua. Forum ini membahas sejumlah isu, mulai dari kerja sama ekonomi di tengah perubahan global, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam transformasi media, hingga penguatan praktik pemeriksaan fakta.
Dalam paparannya, Aldi menilai sejumlah negara dan wilayah di kawasan Global South, yang mencakup Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Oseania, masih kerap menjadi objek arus informasi global. Padahal, negara-negara tersebut memiliki pengalaman dan perspektif tersendiri dalam membangun masyarakat yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi dunia.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital membuka peluang lebih besar bagi jurnalis Global South untuk saling terhubung, menyampaikan kisah dari negara masing-masing, serta mendistribusikan informasi kepada khalayak internasional.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui peliputan bersama, pertukaran konten, dan kerja sama lintas negara. Namun, Aldi menekankan bahwa kolaborasi tersebut membutuhkan kesadaran bersama, solidaritas, serta kepemimpinan dari organisasi-organisasi pers yang terlibat.
Ia juga mendorong organisasi pers untuk memperkuat pelatihan digital dan pemahaman teknologi informasi agar jurnalis memiliki kemampuan bekerja lintas negara, bertukar bahan liputan, serta menyalurkan konten secara langsung kepada masyarakat.
“Kemampuan bercerita adalah kekuatan kita. Sekarang saatnya memperkuat kemampuan bernarasi dengan penguasaan teknologi informasi. Pertanyaannya, apakah organisasi-organisasi pers dari negara-negara Global South bersedia mengambil peran?” kata Aldi.
Ia mengakui, forum yang berlangsung selama beberapa hari di Nanjing belum tentu mampu menyelesaikan seluruh tantangan teknis dalam membangun kerja sama media berskala besar. Meski demikian, forum tersebut diharapkan menjadi titik awal bagi organisasi pers untuk membangun jaringan, memperkuat kolaborasi, dan mengembangkan cara bercerita berdasarkan perspektif masing-masing.
Aldi juga menyoroti pengalaman mengikuti kunjungan ke sejumlah destinasi budaya di Provinsi Jiangsu. Menurutnya, tradisi bercerita dan kebiasaan mendokumentasikan sejarah menjadi salah satu pelajaran yang dapat dipetik dari Tiongkok untuk memperkuat kemampuan jurnalis dalam menyampaikan kisah bangsanya kepada dunia.
“Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari China untuk memperkuat kemampuan kita dalam bercerita, sekaligus memastikan bahwa suara dan kisah kita sendiri dapat didengar oleh dunia,” ujarnya.
Dalam seminar tersebut, Profesor Zhang Yun dari Sekolah Hubungan Internasional Universitas Nanjing turut menyoroti persoalan kesalahpahaman atau mispersepsi sebagai salah satu tantangan penting dalam kerja jurnalistik di kawasan Global South.
Zhang juga mengaitkan kehadiran para jurnalis dari negara-negara berkembang di Nanjing dengan semangat Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Ia berharap semangat tersebut dapat menginspirasi lahirnya “Semangat Nanjing” yang mendorong jurnalis negara-negara berkembang untuk merepresentasikan bangsa mereka secara lebih utuh dalam pemberitaan global.
Belt and Road Journalists Forum merupakan kegiatan utama Belt and Road Journalists Network (BRJN), sebuah platform internasional untuk pertukaran dan kerja sama antarorganisasi jurnalis yang diprakarsai bersama oleh All-China Journalists Association (ACJA) dan organisasi jurnalis dari negara serta kawasan peserta Inisiatif Belt and Road.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2017, forum ini telah menjadi wadah pertemuan bagi pimpinan organisasi pers, jurnalis, dan eksekutif media dari berbagai negara. Kegiatannya mencakup kunjungan lapangan dan diskusi tematik untuk berbagi pengalaman profesional, wawasan, serta perkembangan terbaru di bidang media.
BRJN disebut menjadi penghubung bagi lebih dari 110 organisasi jurnalis di berbagai negara dan kawasan, dengan cakupan sekitar 1,67 juta tenaga profesional media.
Pada 2026, Belt and Road Journalists Forum mengusung tema “Konvergensi dan Konektivitas, Inovasi dan Kemajuan, Transformasi Media di Tengah Perubahan Global”. Forum tersebut berlangsung pada 12–18 Oktober 2026 di Nanjing, Provinsi Jiangsu, Tiongkok bagian timur.
Sumber : PWI Pusat










































