OPINI, Batamtv.com – Setiap 28 Oktober, kita menyaksikan ritual yang sama: upacara bendera di lapangan, parade, pembacaan teks Sumpah Pemuda.
Rutinitas ini sudah berlangsung puluhan tahun tanpa banyak perubahan. Pertanyaannya: apakah peringatan yang monoton ini masih relevan, atau justru telah kehilangan ruh semangatnya?
Ketika para pemuda dari berbagai penjuru tanah air berkumpul pada tahun 1928, mereka tidak sekadar mengikrarkan tiga butir ikrar. Mereka sedang membayangkan Indonesia yang belum ada, mempersatukan diri melintasi batas suku dan wilayah dengan satu komitmen: bertumpah darah satu, tanah air Indonesia; berbangsa satu, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Itu adalah momen pemberontakan ide—berani, radikal, dan penuh risiko.
97 tahun kemudian, kita perlu bertanya secara jujur: di mana semangat pemberontakan itu dalam jiwa karsa generasi muda hari ini?
Dari Semangat ke Substansi
Memang benar bahwa setiap tahun Sumpah Pemuda diperingati dengan gegap gempita. Namun perayaan tanpa substansi hanya akan menjadi kemasan kosong.
Yang dibutuhkan bukan sekadar mengenang, melainkan menerjemahkan spirit 1928 ke dalam aksi konkret. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton dalam pembangunan—mereka harus menjadi aktor utamanya.
Kepulauan Riau, dengan posisinya yang strategis di persimpangan jalur perdagangan internasional, seharusnya menjadi laboratorium bagi generasi muda untuk membuktikan bahwa semangat Sumpah Pemuda bukan sekadar slogan.
Kedekatan dengan Singapura, Malaysia, dan kawasan ASEAN lainnya adalah peluang emas yang tidak dimiliki banyak daerah lain di Indonesia.
Namun peluang geografis saja tidak cukup. Ombak Natuna yang garang, yang menghantam dengan gelombang tinggi saat musimnya tiba, harus menjadi metafora bagi semangat pemuda Kepri: gigih, tidak mudah surut, dan mampu mengubah lanskap. Bukan sekadar bergelora di permukaan, tetapi benar-benar menggerakkan perubahan.
Tiga Tantangan untuk Pemuda Kepri
Pertama, peningkatan kualitas diri. Tanpa kompetensi yang mumpuni, semangat hanya akan menguap sia-sia. Pemuda Kepri harus membekali diri dengan keahlian yang relevan—baik dalam ekonomi maritim, teknologi digital, maupun tata kelola pemerintahan—agar mampu bersaing tidak hanya di tingkat lokal, tetapi juga nasional dan regional.
Kedua, kreativitas dalam memecahkan masalah. Pembangunan Kepri membutuhkan solusi inovatif, bukan sekadar meniru pola lama. Bagaimana menjadikan Kepri sebagai kawasan ekonomi yang tangguh? Bagaimana memanfaatkan kelautan sebagai sumber kemakmuran berkelanjutan? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang menuntut jawaban dari generasi muda.
Ketiga, keberanian untuk terlibat. Kepemimpinan bukan hanya soal jabatan, tetapi soal inisiatif. Pemuda Kepri tidak boleh hanya menunggu panggilan—mereka harus menciptakan peluang, membangun jaringan, dan berani mengambil posisi di panggung nasional.
Penutup: Kepri yang Gemah Ripah Loh Jinawi
Moment peringatan Sumpah Pemuda seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus titik tolak. Bukan sekadar merayakan masa lalu, tetapi merumuskan masa depan. Kepri memiliki semua modal untuk menjadi mercusuar pembangunan di Indonesia bagian barat—posisi strategis, sumber daya alam, dan yang terpenting, generasi muda potensial.
Yang dibutuhkan kini adalah transformasi dari ritual menjadi aksi, dari semangat menjadi karya nyata. Kepri yang gemah ripah loh jinawi—subur, makmur, dan berlimpah—bukan akan datang dengan sendirinya.
Ia harus dibangun, diperjuangkan, dan diwujudkan oleh jiwa karsa pemuda yang berani mengambil risiko, sebagaimana para pendahulu mereka di tahun 1928.
Jadi, apakah kita hanya akan terus menggelar upacara yang sama setiap tahun, atau berani membuat Sumpah Pemuda kembali menjadi gerakan yang hidup?*
Oleh : Ridarman Bay
Penulis adalah Ketua Lembaga Hikmah & Kebijakan Publik Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (LHKP PWM) Provinsi Kepri.











































