Empat hari yang padat. Dari 16 sampai 19 September 2026, PWI Kepulauan Riau bagai berlari dari satu pintu ke pintu lain. Pelantikan pengurus PWI Kepri sisa masa bakti 2023–2028, peresmian Graha PWI di kompleks Ruko Purimas, Batam Centre, Orientasi Keanggotaan dan Kewartawanan (OKK), lalu Uji Kompetensi Wartawan (UKW) enam kelas di Balairung BP Batam. Maraton.
UKW melahirkan 32 wartawan kompeten pada jenjang Utama, Madya, dan Muda. Saya kebetulan menguji kelas Muda dan Madya sekaligus. Selamat kepada seluruh peserta. Kompetensi bukan sekadar selembar sertifikat. Kompetensi adalah pengingat bahwa profesi wartawan memiliki ukuran, standar, dan tanggung jawab.
Selamat pula kepada pengurus PWI Kepri yang baru dilantik. Menjadi pengurus organisasi berarti menerima amanah untuk menjaga rumah bersama, termasuk ketika rumah sedang gaduh. Di situlah berorganisasi menjadi menarik.
Manusia adalah makhluk individual. Namun, manusia tidak pernah benar-benar bisa hidup sendirian. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politikon, makhluk yang hidup dalam kehidupan bersama. Manusia membentuk keluarga, kampung, komunitas, negara, serikat, perkumpulan, dan organisasi. Mengapa? Karena manusia sadar dirinya terbatas.
Orang bisa kuat pada satu hal, tetapi lemah pada hal lain. Punya gagasan, tetapi mungkin tidak punya kemampuan melaksanakan. Punya keberanian, tetapi belum tentu punya ketekunan. Punya pengalaman, tetapi tidak selalu memiliki perspektif yang lengkap. Organisasi lahir dari kesadaran atas keterbatasan-keterbatasan itu. Para pengurusnya saling mengisi dan melengkapi satu sama lain.
Tak ada organisasi yang sempurna. Organisasi dibentuk oleh manusia, dan manusia tidak sempurna. PWI pun demikian. Delapan puluh tahun usia PWI tidak menjadikannya tanpa cela. Justru 80 tahun menunjukkan betapa panjang jalan yang telah dilalui. Pernah jaya, jatuh, dipukul zaman, berselisih, terbelah, lalu berdiri lagi.
Berorganisasi membutuhkan kesetiaan. Bukan kesetiaan buta, bukan pula kesetiaan kepada seseorang. Apalagi setia kepada orang yang mengaku-ngaku paling berjasa atau paling banyak mengeluarkan materi. Berorganisasi adalah kesetiaan kepada nilai, aturan, dan sejarahnya. Organisasi adalah milik sejarah yang dibangun oleh banyak generasi.
Dalam konteks PWI, keanggotaan dan keterlibatan dalam forum atau komunitas lain tentu harus tunduk pada aturan organisasi. AD/ART PWI mengatur bahwa anggota boleh membuat atau bergabung dengan forum atau komunitas sejenis sepanjang tidak berbadan hukum (Pasal 10 ayat 1). Lalu, bagi anggota di daerah yang hendak melakukan hal serupa, diperlukan izin tertulis dari pengurus PWI Provinsi (ayat 2).
Kata Ketua Umum PWI Pusat Cak Munir, izin tertulis itu bukan semata-mata mengirim surat lewat WhatsApp. Ada ewuh-pakewuh, ada ketakziman, kesediaan menjadi perpanjangan tangan PWI di forum barunya, bahkan mengibarkan panji dan membesarkan PWI di sana.
Kalau masih membawa nama PWI, memakai identitas PWI, dan menikmati kedudukan sebagai anggota PWI, maka ada konsekuensi yang melekat. Kebebasan berorganisasi bukan berarti kebebasan mengabaikan aturan organisasi yang secara sadar kita pilih sendiri.
Kalau mau pindah rumah, katakan dengan terang. Kalau ingin keluar, keluarlah dengan kesatria. Tak perlu membakar rumah lama, mencaci-makinya, hanya karena memilih rumah baru. Tak perlu pula bermain playing victim, merengek ke sana kemari dengan mendaku sebagai pihak yang paling menjadi korban dan terzalimi.
Justru cara seseorang memperlakukan masa lalunya adalah cermin kedewasaan dirinya. Orang yang matang tak perlu merubuhkan jembatan hanya untuk membuktikan bahwa ia telah menyeberang.
Lelaki sejati bukan diukur dari seberapa keras kau berteriak mengatakan, “Aku pergi!” Tetapi dari bagaimana kau tetap menghormati jalan yang pernah kau lalui setelah sampai di persimpangan lain. Kalau adab sederhana ini pun kau tak punya, selamanya kau nonsense.
PWI bukan organisasi sempurna, tetapi organisasi yang mau belajar dari ketidaksempurnaannya. Di PWI tak ditemukan pengurus yang tak pernah salah, yang ada adalah pengurus yang ketika salah masih mau mendengar. Jangan cari anggota yang tak pernah berbeda pendapat di PWI. Tetapi anggota yang berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa memiliki, banyak.
PWI itu rumah yang akan selalu retak karena musim, cuaca, badai, taufan, perdebatan, dan pertengkaran. Namun, penghuninya juga akan selalu memperbaikinya. Rumah yang tak pernah retak bukanlah rumah yang dihuni manusia. Mungkin dihuni jin, jembalang. Rumah semacam itu bukan PWI namanya. Boleh jadi rumah Kojekut — Komunitas Jembalang Kalut.
Oleh : Ramon Damora (PWI Kepri)













































