read news – Rumah Singgah SOS Batam, Solusi Kesehatan Warga Kepri 

0
Rumah Singgah SOS Batam, solusi kesehatan warga Kepri. Tampak Ps Thomson (berdiri, tengah, kemeja merah motif kotak kotak) mewakili Pendiri Yayasan SOS Ps. Stefanus Wijaya berpose bersama pelayan dan keluarga besar Rumah Singgah SOS Batam pada acara Peresmian Rumah Singgah SOS Batam Febuari 2023. (foto : kiriman rumah singgah sos batam untuk batamtv.com)
foto kiri : dr Herlina Delicia menggendong bayi yang dibantu persalinannya karena orangtuanya tidak mampu membiayai persalinan pada bulan September 2023. foto kanan : Ps Johan Salko Sos (kaos biru) berpose bersama pasien dan keluarga pasien yang mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Singgah SOS Batam.

BATAM, batamtv.com – Sehat itu mahal, terutama bagi orang yang sedang sakit. Terbilang mahal bukan hanya dari biaya pengobatan saja, namun ketika jatuh sakit harus keluar biaya akomodasi, transportasi untuk ke fasilitas layanan kesehatan.

“Rumah Singgah Sahabat Orang Sakit (SOS) Batam merupakan solusi bagi mereka yang ada di luar Pulau Batam khususnya yang ada di Kepulauan Riau, ketika harus berobat ke Pulau Batam, ujar Kordinator Rumah Singgah SOS dr Herlina Delicia saat ditemui batamtv.com di Kabil Rabu (08/11).

Dia menjelaskan sejumlah keunggulan di Rumah Singgah SOS bukan hanya memperhatikan kebutuhan jasmani ataupun masalah fisik saja namun juga pendampingan psikis dan pemulihan mental.

“Pasien rumah singgah didampingi tenaga medis profesional dari Delicia Health Care, mendapatkan pembekalan motivasi dan konseling agar pasien menjadi semangat dan kuat menghadapi sakit penyakitnya, bahkan diajar untuk menguatkan orang sakit lainnya,” ujarnya.

Lebih lanjut dr Herlina Delicia menjelaskan Yayasan Sahabat Orang Sakit (SOS) didirikan oleh Ps Stefanus Wijaya tahun 2010 namun secara resmi didaftarkan pada akta notaris tahun 2014.

Pendirian yayasan SOS berawal dari Pelayanan SOS Di Singapura karena banyaknya WNI yang berobat di Singapura dan terus mengalami peningkatan jumlah pasien.

Kehadiran pelayanan SOS di rumah sakit Singapura mendapat respon dan antusiasme WNI yang berobat ke Singapura.

“Tingginya respon antusiasme WNI atas pelayanan Yayasan SOS ini, maka yayasan memperluas dengan membuka Rumah Singgah dibeberapa kota di Indonesia,” katanya.

“Saat ini sudah ada 12 Rumah Singgah, dan di Batam ada dua Rumah Singgah yakni di daerah Sei Jodoh dan Bida Kabil,” tambah dr Herlina Delicia.

Di Rumah Singgah, disiapkan kamar inap untuk pasien dengan pendamping, peralatan dapur, kebutuhan makan, minum dan layanan wifi gratis.

Selain orang sakit, Rumah Singgah SOS ini juga memberikan pelayanan kepada ibu hamil tidak mampu, ibu hamil dengan kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), pasca persalinan.

“Semua pelayanan Rumah Singgah diberikan free atau gratis, tanpa dipungut biaya. Namun untuk berjaga-jaga pasien diwajibkan memiliki bpjs supaya perobatan di fasilitas kesehatan menjadi lebih mudah,” ujarnya.

Untuk diketahui Rumah Singgah SOS ini terbuka untuk umum, tanpa membedakan suku, ras dan agama.

“Kita seperti Buddha Tzuchi menampung semua orang sakit tanpa membeda bedakan latar belakang dan asal-usulnya,” ujar dr Herlina Delicia.

Ditempat yang sama, PIC SOS Batam Ps. Johan Salko Sos menjelaskan bahwa Rumah Singgah SOS saat ini sudah bekerjasama dengan beberapa rumah sakit seperti RS Elisabeth, RS Bunda Halimah, RS Graha Hermina.

Selain itu Rumah Singgah SOS juga bekerja sama dengan lembaga Konseling Keluarga Kreatif (LK3). Dan jumlah pasien yang pernah dilayani di Rumah Singgah SOS Sei Jodoh saat ini sebanyak 13 orang dan di Rumah Singgah SOS Bida Kabil sebanyak 18 orang.

Sedangkan jumlah kamar di Rumah Singgah SOS Sei Jodoh sebanyak 8 kamar dan di Rumah Singgah SOS Bida Kabil sebanyak 9 kamar.

“Jadi pasien yang berobat mendapatkan motivasi dan semangat. Harapannya biar sembuh total baik secara jasmani dan rohani,”. pungkasnya. (adv)

editor : ronny alimin

reporter : muhammad amin