Oleh : Edi Sutrisno – Direktur Eksekutif BTPB
Kata Mas Menteri Sandi…sekarang ini kita kudu konsen pada quality tourism bukan lagi quantity tourism….Terjemahan…di masa depan, semua pelaku pariwisata tidak boleh lagi berkutat mikirin angka2 tapi lebih menguatkan fokus gimana caranya agar wisman beroleh sajian wisata yg berkualitas: dapat experience lebih dan gapai goal berlibur sesuai ekspektasi. Endingnya: mereka bisa berlama2 di Indonesia dan… banyak pitih masuak!
Nuju ke sana, cemana pula caranya? Mas menteri dah siapkan jurus ini: 3G, gerak cepat, gerak bersama dan go online and digital..
Ihwal 3G itu, saya sendiri, belum terlalu “ngeh.” Gak tau ya kalau kawan2. Mungkin sudah pada khatam…
Nah, kembali ke soal quality tourism itu, kami orang Kepri tentu bersepakat dan dengan semngat 45 akan berusaha kuat menuju ke arah itu. Cuma perlu dicatat, mahzab wisata Kepri itu border tourism. Wisata perbatasan yang mengandalkan jiran. Konsentrasi kita ya Singapura dan Malaysia. Nah tersebab border, maka ritual jiran kalau pelesiran ke Kepri itu ya di akhir pekan. Sama persis kek orang2 Jakarta yg bertradisi menghabiskan weekend di Puncak.
Jiran, kalau punya waktu libur panjang, dah pasti mencoret Kepri dalam bucket list liburan. Sebab itu waktu yg mereka tunggu untk liburan ke Eropa, Amerika, Australia dan ke destinasi2 yang ikonis di serata dunia.
Nah berkaca pada fakta2 itu maka, lenght of stay wisman di negeri kami, dari dulu ampe sekarang ya berkutat di angka ini: 1,9 hari. Mau diungkit2 kek mana pun, kecuali ada upaya ekstraordinari, susah nak naik kelas.
Makanya, bukan bermaksud tak nak mendukung, kami di awal dah bersepakat quality tourism amat penting, tapi satu sisi, bagi kami, quantity tourism itu tak kalah penting dan tetep jadi fokus penguatan. Singkatnya gini, gak papa mereka cuma pelesiran Sabtu-Minggu, yang penting repeat. Berulang2.
Cemana Mas Menteri? Sekali2lah kalau visitasi ke Kepri, kami2 ini diajak diskusi…!












































