Yogyakarta, batamtv.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong penguatan pendekatan Sustainable Resilience sebagai kerangka membangun ketangguhan masyarakat dan mendukung pembangunan berkelanjutan di Indonesia.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu gagasan yang akan dibawa Indonesia dalam The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience (GFSR) 2026 yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada September 2026.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati menyampaikan hal tersebut setelah bertemu Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X di Gedhong Wilis, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (12/8/2026).
Dalam pertemuan itu, Raditya mengundang Sri Sultan untuk menghadiri GFSR 2026 sekaligus memberikan keynote address mengenai pengalaman Yogyakarta dalam menghadapi dan menangani bencana.
Menurut Raditya, pengalaman Yogyakarta dalam menangani Gempa Yogyakarta 2006 menjadi salah satu pembelajaran penting dalam membangun ketangguhan masyarakat.
“Resiliensi bangsa pada dasarnya dibangun dari masyarakat. Karena itu, kita perlu melihat bagaimana pembelajaran lokal dapat menjadi fondasi untuk memperkuat ketahanan masyarakat, kemudian terhubung dengan sistem di tingkat daerah dan nasional,” ujar Raditya.
BNPB menilai pembangunan resiliensi tidak hanya bergantung pada kebijakan dan infrastruktur, tetapi juga membutuhkan kepemimpinan, pengetahuan lokal, gotong royong, kapasitas masyarakat, serta kolaborasi berbagai pihak.
Pendekatan tersebut juga diarahkan untuk mengintegrasikan isu perubahan iklim, penanggulangan bencana, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan yang semakin saling berkaitan.
BNPB menyebut terdapat lima pilar utama dalam membangun Sustainable Resilience, yakni tata kelola yang baik, investasi berkelanjutan, penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi, pembangunan infrastruktur tangguh, serta partisipasi aktif masyarakat.
Kelima pilar tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan masyarakat dalam menghadapi bencana sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan dan perlindungan masyarakat dalam jangka panjang.
Pengalaman Yogyakarta
Sri Sultan Hamengku Buwono X turut menyampaikan pengalaman Pemerintah DIY dalam menghadapi berbagai kejadian bencana, termasuk Gempa Yogyakarta 2006 dan erupsi Gunung Merapi 2010.
Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran mengenai peran pemerintah daerah, masyarakat, dan pemangku kepentingan dalam membangun kapasitas menghadapi serta memulihkan kondisi pascabencana.
Sri Sultan menyambut baik undangan BNPB untuk menghadiri GFSR 2026 dan menyatakan akan mengagendakan kehadirannya dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung pada September mendatang.
BNPB berharap pengalaman Yogyakarta dapat menjadi bagian dari pembelajaran yang dibagikan dalam forum global. Pendekatan tersebut menekankan bahwa resiliensi perlu dibangun dari tingkat lokal sebelum terhubung dengan kebijakan nasional dan agenda global.
Rangkaian Road to GFSR 2026 yang digelar BNPB menjadi bagian dari upaya menghimpun praktik baik dan pembelajaran dari berbagai daerah di Indonesia.
Hasil pembelajaran tersebut akan dibawa dalam The 3rd Global Forum for Sustainable Resilience 2026 yang diselenggarakan bersamaan dengan rangkaian ADEXCO ke-5 di Jakarta pada September 2026.
Melalui forum tersebut, BNPB mendorong pertukaran pengetahuan dan pengalaman dalam membangun masyarakat yang mampu menghadapi berbagai risiko sekaligus menjaga keberlanjutan pembangunan.
Sumber : InfoPublik











































