Pulasan di Pekarangan: Ketika Buah Langka Menghidupkan Kembali Memori yang Hilang

0
Ket Foto : Ady Indra Pawennari saat memetik pulasan

OPINI, Batamtv.com – Bagaimana rasanya memetik buah dari pohon di pekarangan sendiri, memakannya dengan nikmat selama tiga tahun berturut-turut, tetapi tidak pernah tahu apa namanya? Pengalaman unik ini nyata saya alami. Selama tiga musim, pohon misterius di sudut pekarangan itu selalu berbuah lebat. Sekilas, wujudnya menyerupai rambutan. Namun, setiap kali kulitnya dikupas dan dagingnya dikunyah, ada perbedaan besar yang menolak disamakan. Rasa penasaran yang terpendam bertahun-tahun itu akhirnya terjawab lewat sebuah momen panen kecil-kecilan bersama para sahabat baru-baru ini.

Salah seorang sahabat, Sigit Rachmat, awalnya mengaku tak terlalu antusias saat saya ajak ikut memanen. Sebuah reaksi yang sangat bisa dimaklumi; di kebunnya sendiri, pohon rambutan tumbuh subur dan berbuah lebat setiap musim. Namun, dinamika berubah total begitu ia tiba di lokasi dan melihat wujud aslinya secara langsung. Raut wajahnya seketika berubah gembira, seolah menemukan harta karun yang terkubur.

“Ini bukan rambutan, ini buah Pulasan. Buah langka ini. Entah mimpi apa aku semalam, bisa ketemu buah ini!” serunya penuh semangat.

Bagi Sigit, momen mencicipi buah itu seketika berubah menjadi mesin waktu yang melompati dimensi ruang dan masa. Ia berkisah bahwa saat masa kecilnya di Pekanbaru, Riau, ia sangat sering menyantap buah ini. Namun, sejak pindah dan menetap di Tanjungpinang, ia tak pernah lagi menemukan pohon maupun buahnya. Hampir 30 tahun lamanya ia kehilangan jejak buah masa kecilnya itu, hingga akhirnya takdir mempertemukannya kembali di tanah Tanjungpinang melalui pekarangan rumah saya.

Pengalaman ini menyadarkan saya betapa masyarakat awam sering keliru menganggap Pulasan sebagai rambutan. Padahal, keduanya adalah dua spesies yang sepenuhnya berbeda (Nephelium lappaceum dan Nephelium mutabile).

Secara fisik, rambutan identik dengan warna merah cerah atau kuning dengan rambut-rambut halus yang lebat dan lentur. Sebaliknya, Pulasan tampil dengan warna yang lebih gelap dan eksotis—mulai dari merah marun hingga keunguan—dengan kulit tebal, keras, dan dipenuhi tonjolan berbentuk duri tumpul tanpa rambut.Dari segi rasa dan tekstur, Pulasan bahkan sering kali dianggap mengungguli kembarannya. Jika daging rambutan kerap kali berair dan melekat erat pada bijinya, daging buah Pulasan justru sangat padat, kenyal, agak kering, dengan rasa manis pekat yang khas, serta sangat mudah lepas dari biji (ngelotok). Bahkan cara menikmatinya pun unik, sesuai namanya: cukup di-pulas (dipuntir) dengan kedua tangan hingga kulitnya terbelah dengan mudah.

Namun, di balik kegembiraan reuni rasa tersebut, ada sebuah ironi yang patut kita renungkan bersama. Pulasan adalah buah asli Asia Tenggara yang menyukai iklim tropis basah. Di masa lalu, ia tumbuh subur di daratan Sumatra, menjadi tanaman pekarangan di Kalimantan, hingga dikenal sebagai Kapulasan di daerah Bogor, Jawa Barat. Sayangnya, hari ini Pulasan masuk dalam kategori buah langka yang jarang sekali dibudidayakan secara komersial karena kalah populer dengan rambutan yang lebih bernilai pasar tinggi.

Keberadaan pohon Pulasan yang bisa berbuah subur di Tanjungpinang ini pada akhirnya bukan sekadar tentang keberuntungan agraris atau urusan perut semata. Ini adalah sebuah berkah ekologis dan emosional yang mendalam.Ketika kita menanam dan merawat pohon-pohon lokal yang mulai terlupakan di pekarangan rumah, kita sebenarnya sedang melakukan dua hal besar sekaligus. Pertama, kita sedang menjaga kekayaan plasma nutfah atau sumber daya genetik tumbuhan asli Indonesia yang kian terkikis oleh zaman dan modernisasi. Kedua, dan yang tidak kalah indahnya, kita sedang merawat memori kolektif bangsa kita.

Melalui sebutir buah Pulasan di pekarangan, sebuah jembatan waktu telah terbangun. Pohon itu tidak hanya berhasil menyelamatkan satu spesies buah langka dari kepunahan lokal, tetapi juga berhasil menghidupkan kembali sepotong memori masa kecil seorang sahabat yang sempat hilang selama tiga dekade. Pekarangan rumah kita, sekecil apa pun itu, ternyata bisa menjadi tempat di mana alam dan kenangan manis masa lalu bersatu kembali.

Penulis : Ady Indra Pawennari