
Jakarta,batamtv.com,- Para ahli dan koalisi masyarakat sipil berharap Presiden Prabowo Subianto bersikap legawa untuk melakukan moratorium program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal itu disampaikan Peneliti dari Monash University Grace Wangge menyusul maraknya kasus keracunan massal siswa di berbagai daerah yang jumlahnya telah menembus ribuan.
“Dalam jangka pendek, kami berharap pemerintah mau legawa untuk melakukan moratorium. Karena tidak bisa ditunda lagi, ini sudah sembilan bulan. Masa kita mau tunda sampai kapan lagi?” ujar Grace dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi IX DPR terkait evaluasi dan rekomendasi program MBG, Senin (22/9/2025).
Grace menuturkan, kasus keracunan yang terus berulang telah mengikis kepercayaan publik terhadap program MBG.
Meski masyarakat sebenarnya menghargai tujuan program tersebut, rangkaian insiden ini telah membuat sentimen negatif mendominasi.
“Karena ada kasus keracunan, membuat kepercayaan masyarakat lama-lama menurun dan mengikis. Kami menuntut ada evaluasi menyeluruh dari program ini karena tingginya kasus keracunan makanan, lemahnya mekanisme evaluasi, serta akuntabilitas dan transparansi,” ujarnya.
Grace juga menekankan pentingnya perbaikan jangka panjang, di antaranya penyusunan desain program yang lebih terintegrasi antara sektor pendidikan dan kesehatan. Selain itu, pihaknya mendesak pemerintah, khususnya BGN, untuk membatasi penggunaan pangan ultra-proses yang tinggi gula, garam dan lemak dalam menu MBG.
“Kami menuntut ada perbaikan tata kelola yang jelas-jelas harus ada akuntabilitas, transparansi dan melibatkan justru masyarakat sipil,” kata Grace. Grace menambahkan, perlunya kanal pelaporan yang jelas agar korban maupun masyarakat sipil dapat menyampaikan keluhan tanpa intimidasi.
“Pastikan hak dan perlindungan bagi masyarakat sipil yang nantinya akan membuat laporan terkait temuan MBG ini di lapangan,” jelas Grace. Sementara itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji memaparkan jumlah kasus keracunan akibat MBG terus meningkat tajam. Per 14 September 2025, tercatat ada 5.360 kasus, dan hanya dalam sepekan bertambah 1.092 kasus sehingga totalnya menembus lebih dari 6.400 kasus pada 21 September.
“Angkanya naik gila-gilaan. Satu bulan terakhir ribuan, bahkan seminggu terakhir sudah seribu lebih. Ini kejadian luar biasa. Presiden butuh nunggu korban sampai berapa banyak lagi untuk dievaluasi serius? Atau nunggu ada nyawa yang melayang?” kata Ubaid.
Dia kemudian menyebutkan lima provinsi dengan jumlah kasus keracunan terbanyak, yakni Jawa Barat sekitar 2.012 kasus, DIY sekitar 1.047 kasus, Jawa Tengah 722 kasus, Bengkulu 539 kasus, dan Sulawesi Tengah 446 kasus. “Kalau hanya di satu titik, mungkin masalah teknis. Tapi ini nyebar ke hampir semua provinsi. Jadi jelas ini masalah sistem,” pungkasnya. Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan keracunan massal akibat menu MBG kembali terjadi di sejumlah daerah.
Di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, ratusan pelajar keracunan usai menyantap menu MBG di sekolah pada Rabu (17/9/2025).
Data dari RS Trikora Salakan hingga Kamis (18/9/2025) pukul 07.00 WITA mencatat, jumlah korban mencapai 251 pelajar. Ratusan pelajar yang terdampak berasal dari berbagai sekolah di Banggai Kepulauan, yakni SMA 1 Tinangkung, SMK 1 Tinangkung, SDN Tompudau, SDN Pembina, SDN Saiyong, dan MTs Alkhairaat Salakan. Kejadian serupa juga terjadi di Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tercatat ada sekitar 90 orang siswa yang diduga keracunan makanan MBG di MTsN dan SMAN yang berada di Kecamatan Empang pada Rabu (17/9/2025).
Di Maluku, belasan siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri 19 Kota Tual diduga mengalami keracunan usai menyantap menu MBG yang disediakan di sekolah tersebut pada Kamis (18/9/2025). Para siswa yang menyantap makanan bergizi gratis ini mengalami mual, pusing, dan sakit kepala usai menyantap hidangan yang disediakan.
Akibat kejadian itu, belasan siswa tersebut terpaksa dilarikan ke Rumah Sakit Maren di Kota Tual untuk menjalani perawatan medis. Sebanyak 194 pelajar dari tingkat SD, SMP, hingga SMA di Kabupaten Garut, Jawa Barat, juga dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap makanan dari program MBG.
Peristiwa tersebut terjadi pada Rabu (17/9/2025) dan mayoritas siswa berasal dari Kecamatan Kadungora. Dari jumlah tersebut, 177 siswa mengalami gejala ringan, sedangkan 19 lainnya harus menjalani perawatan intensif di Puskesmas Kadungora.
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : detik.com









































