
Damaskus,batamtv.com,- Korban tewas akibat bentrokan antara pasukan keamanan Suriah dan loyalis mantan Presiden Bashar Al Assad terus bertambah. Dalam dua hari terakhir, jumlah korban telah melampaui 1.000 jiwa pada Sabtu (8/3/2025).
Insiden ini menjadi salah satu kekerasan paling mematikan sejak konflik Suriah pecah 14 tahun lalu. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) yang berbasis di Inggris melaporkan bahwa dari total korban tewas, 745 di antaranya adalah warga sipil. Sebagian besar korban kehilangan nyawa akibat tembakan jarak dekat.
Selain itu, sebanyak 125 anggota pasukan keamanan pemerintah dan 148 kelompok bersenjata pro-Assad turut menjadi korban dalam bentrokan tersebut. Kronologi bentrokan mematikan Menurut laporan SOHR, bentrokan ini dipicu oleh upaya pasukan pemerintah untuk menangkap seorang buronan di dekat kota pesisir Jableh.
Namun, operasi tersebut berujung pada penyergapan oleh loyalis Assad, yang kemudian memicu kekerasan meluas. Bentrokan ini bermula sejak Kamis (6/3/2025), ketika loyalis Assad melancarkan serangan terhadap pasukan keamanan Suriah. Serangan ini terjadi setelah rezim Assad digulingkan pada Desember tahun lalu.
Sebagai balasan, kelompok bersenjata pro-pemerintah menyerang komunitas Alawit, kelompok minoritas yang selama ini menjadi basis pendukung Assad. Sejumlah warga Alawit menceritakan bagaimana milisi bersenjata mengeksekusi para lelaki Alawit di jalanan maupun di depan rumah mereka. Banyak rumah milik warga Alawit dijarah sebelum akhirnya dibakar.
Di Kota Baniyas, salah satu daerah yang paling terdampak, jenazah dilaporkan tergeletak di jalanan atau dibiarkan di dalam rumah tanpa bisa dikuburkan. Ali Sheha, seorang warga Baniyas berusia 57 tahun yang melarikan diri bersama keluarga dan tetangganya, mengatakan bahwa setidaknya 20 orang di lingkungannya terbunuh, sebagian di dalam toko mereka, sebagian lainnya di rumah sendiri. “Kondisinya sangat buruk. Jenazah berserakan di jalan,” kata Sheha, dikutip dari CBS News, Minggu (9/3/2025).
Ia juga menyaksikan langsung bagaimana pria-pria bersenjata menembaki rumah warga secara acak. Dalam beberapa kasus, mereka meminta identitas warga untuk memeriksa agama dan aliran sebelum mengeksekusi mereka. SOHR melaporkan bahwa aksi pembunuhan massal berhenti pada Sabtu (8/3/2025) dini hari. Pada sore harinya, digelar upacara pemakaman untuk empat anggota pasukan keamanan Suriah yang tewas dalam bentrokan.
Sementara itu, Kementerian Pertahanan Suriah mengeklaim bahwa pasukan pemerintah berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah yang sebelumnya dikuasai loyalis Assad. Pemerintah juga telah menutup seluruh akses jalan menuju wilayah pesisir guna mencegah eskalasi lebih lanjut serta secara bertahap mengembalikan stabilitas di kawasan tersebut.
Anggota parlemen Haidar Nasser menyebut banyak warga Suriah yang melarikan diri ke Lebanon atau mencari perlindungan di pangkalan udara Rusia di Hmeimim demi keselamatan mereka. Ia juga menambahkan bahwa sejak jatuhnya Assad, banyak warga Alawit kehilangan pekerjaan. Sebelumnya, mereka menduduki posisi penting di militer dan lembaga keamanan negara selama rezim Assad berkuasa.
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : Kompas.com









































