Kelakar Dasi Merah dan Persimpangan Politik Prabowo

0
Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar (tengah) dan calon presiden terpilih Prabowo Subianto (kanan) menghadiri pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Legislatif PKB di Jakarta, Kamis (10/10/2024). Rapat tersebut membahas koordinasi sinergi legislatif PKB di tingkat DPRD Kabupaten/Kota, Provinsi, dan DPR. (Foto: Indrianto Eko Suwarso/ANTARA FOTO).

Jakarta,batamtv.com,- Dalam Rapat Koordinasi Nasional Legislatif PKB di Jakarta, Kamis (10/10/2024), Prabowo Subianto membuat kelakar tentang dasi merah. Ia menyatakan bahwa jika diundang ke acara PDIP, ia akan mengenakan dasi merah, warna khas PDIP.

Pernyataan ini, karena disampaikan di hadapan publik, meskipun dengan nada bercanda, bisa dibaca sebagai isyarat simbolik yang memiliki makna politis.

Ini sejalan dengan pendapat sosiolog Perancis, Pierre Bourdieu (1991), dalam bukunya Language and Symbolic Power. Ia menyatakan bahwa setiap tindakan, pernyataan, atau gestur publik dari aktor politik bukan hanya bermakna pada tataran literal, tetapi juga memiliki makna simbolik yang mencerminkan dan memperkuat kekuasaan atau posisi dalam ruang sosial. Setiap pernyataan publik memiliki fungsi simbolik.
Dalam hal ini, candaan sering kali digunakan sebagai alat komunikasi simbolik untuk mengirimkan pesan tertentu kepada audiens lebih luas.

Dalam konteks ini, pernyataan Prabowo tentang dasi merah adalah isyarat politik yang mengindikasikan bahwa dirinya dan PDIP semakin dekat, dan pertemuan dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri kemungkinan besar akan segera terjadi.

Kelakar soal dasi merah bukan hanya sekadar guyonan biasa. Ini merupakan simbol kuat yang mengisyaratkan bahwa hubungan Prabowo dan PDIP, yang sempat merenggang selama masa Pilpres 2024, kini mulai pulih.

Dalam beberapa pekan terakhir, rumor tentang pertemuan antara Prabowo dan Megawati semakin kencang beredar. Pertemuan ini penting karena akan menandai rekonsiliasi antara Prabowo dan PDIP, setelah kedua kubu sempat bersaing dalam kontestasi Pilpres 2024.

Selain itu, kelakar tentang dasi merah juga bisa diartikan sebagai bentuk penghormatan Prabowo terhadap Megawati. Dalam budaya politik Indonesia, warna bukan sekadar lambang visual, tetapi juga mencerminkan identitas politik dan komitmen seseorang.

Ketika Prabowo berkelakar bahwa ia akan mengganti dasinya menjadi merah jika diundang PDIP, ia sebenarnya sedang mengirimkan sinyal politik kepada Megawati bahwa ia siap untuk membuka lembaran baru dalam hubungan politik mereka.

Pertemuan antara Prabowo dan Megawati yang dirumorkan akan segera terjadi memperkuat dugaan bahwa hubungan ini akan kembali normal, dan PDIP kemungkinan besar akan masuk ke dalam koalisi pemerintahan Prabowo.

Pergeseran pendekatan politik Prabowo Kelakar dasi merah ini juga bisa dipandang sebagai tanda bahwa PDIP hampir pasti akan bergabung dalam koalisi pemerintahan Prabowo. Terlepas apakah PDIP akan mendapatkan jatah kursi di kabinet atau tidak, yang jelas adalah PDIP sudah menunjukkan sinyal positif untuk menjadi bagian dari pemerintahan Prabowo. Dengan kata lain, meskipun belum ada pernyataan resmi, kelakar ini memperkuat anggapan bahwa PDIP dan Prabowo akan bekerja sama dalam pemerintahan lima tahun ke depan.

Namun, di balik kedekatan yang semakin erat antara Prabowo dan PDIP, ada pergeseran penting dalam relasi Prabowo dengan Presiden Jokowi. Selama masa kampanye Pilpres 2024, Jokowi memberikan dukungan besar kepada Prabowo, terutama dengan mengizinkan Gibran Rakabuming Raka, putra Jokowi, untuk menjadi cawapres pendamping Prabowo. Dukungan Jokowi ini membuat banyak pihak beranggapan bahwa Prabowo akan tetap berada di bawah pengaruh Jokowi.

Namun, sinyal politik yang muncul setelah Pilpres menunjukkan bahwa Prabowo mulai ingin lepas dari bayang-bayang Jokowi. Prabowo memilih jalannya sendiri dan membuka pintu bagi PDIP untuk bergabung. Ini menunjukkan bahwa Prabowo mulai menunjukkan kemandiriannya sebagai presiden terpilih, tanpa harus tunduk sepenuhnya pada keinginan Jokowi. Prabowo di persimpangan politik Dalam konteks yang lebih luas, Prabowo kini berada di persimpangan politik yang cukup kompleks.

Di satu sisi, ia masih harus menjaga hubungan baik dengan Jokowi. Di sisi lain, Prabowo juga harus menjaga hubungan dengan PDIP, partai terbesar di parlemen, yang kini semakin dekat dengan dirinya.

Menyeimbangkan relasi ini bukanlah hal mudah. Prabowo harus memastikan bahwa Gibran tidak menjadi alat bagi Jokowi untuk terus mengendalikan kebijakan pemerintah. Pada saat yang sama, ia harus menjaga hubungan baik dengan Megawati dan PDIP untuk memastikan bahwa pemerintahan berjalan kondusif dan stabil.

Dalam situasi ini, Prabowo perlu memainkan peran politik yang cerdas untuk memastikan bahwa ia tetap menjadi pemimpin dominan, tanpa harus terjebak dalam konflik kepentingan antara dua kubu besar politik di Indonesia.

Ke depan, hubungan antara Prabowo, Jokowi, dan Megawati akan menjadi salah satu faktor penentu arah politik Indonesia. Jika Prabowo berhasil menjaga keseimbangan antara pengaruh Jokowi dan aspirasi PDIP, maka pemerintahan yang akan datang bisa menjadi pemerintahan yang sangat kuat dan stabil.

Namun, jika salah satu pihak merasa tersisih atau tidak mendapatkan ruang yang cukup dalam pemerintahan, konflik internal bisa muncul dan mengganggu stabilitas politik. Bagi Jokowi, menjaga pengaruhnya dalam pemerintahan setelah ia tidak lagi menjabat adalah tantangan besar. Kehadiran Gibran sebagai wapres adalah cara Jokowi untuk tetap memiliki akses ke kekuasaan, meskipun tidak lagi memegang jabatan presiden.

Namun, dengan PDIP yang semakin dekat dengan Prabowo, pengaruh Jokowi bisa sedikit demi sedikit berkurang, terutama jika Prabowo lebih condong kepada Megawati dalam pengambilan keputusan strategis. Di sisi lain, bagi Prabowo, hubungan dengan Jokowi dan Megawati adalah kunci untuk menjalankan pemerintahannya dengan efektif.

Prabowo perlu terus menunjukkan bahwa ia adalah presiden independen, tetapi pada saat yang sama tetap menjaga hubungan baik dengan kedua tokoh ini untuk memastikan bahwa ia memiliki dukungan politik yang cukup di parlemen maupun di luar parlemen. Candaan soal dasi merah hanyalah permulaan dari permainan politik yang lebih besar di antara ketiga tokoh ini.

Penanggungjawab : Oktarian

Editor                   : Sofyan Atsauri

Sumber                 : Kompas.com