
Oleh : Ramon Damora (Ketua PWI Kepri 2 Periode)
H-1 menuju kongres persatuan. Besok, Sabtu (30/8), Cikarang, kota industri dengan denyut mesin yang tak pernah tidur, bakal menjadi gelanggang saksi.
Di sana, suara-suara bergemuruh, kontestasi untuk sesaat akan sengit lagi, tentu dengan notasi berbeda, yakni riuh yang mempertautkan kembali persaudaraan yang lama tercabik.
Cikarang, kami datang.
Terlalu lama tubuh organisasi ini koyak oleh silang tafsir, oleh perbedaan yang tak kunjung menemu cara untuk diobati, oleh gengsi yang lebih sering ditinggi-tinggikan.
Di meja kopi, kita pura-pura meneguk, padahal rasa getir sudah menutup mulut kita. Di jalan, saling berpaling muka. Kata “teman sejawat” terdengar asing, serupa bahasa yang mati.
Padahal, di luar sana, dunia tengah runtuh oleh derasnya disrupsi. Media arus besar goyah, dihantam ombak kebohongan yang terorganisir. Demokrasi direduksi menjadi pasar intimidasi dan manipulasi.
Semua elemen negara, dari eksekutif hingga legislatif, terjerat skandal dan kepentingan. Sementara rakyat, dari pengendara ojek online yang tewas terinjak roda baja kekuasaan, sepasang suami istri yang memilih mati di Batam karena putus harapan hidup tadi malam, ibu-ibu di Tanjungbalai Karimun yang teriak karena langkanya beras, menanti suara jernih yang bisa mereka percayai.
Suara itu, seharusnya, datang dari kita: para wartawan.
Albert Camus pernah berkata, “A free press can be good or bad, but, most certainly, without freedom, it will never be anything but bad.” Kalimat itu mengingatkan, profesi ini bukan sekadar menulis berita, melainkan memikul amanah peradaban. Wartawan, dengan segenap keterbatasannya, mesti tetap berdiri di tepi jalan sejarah, menuliskan kebenaran tanpa gemetar.
Maka, di Cikarang ini, mari kita ingat kembali, kita bukan sekadar kumpulan individu dengan ambisi dan mazhab berbeda. Kita adalah bagian dari rumah besar bernama PWI, organisasi wartawan yang telah berusia 79 tahun. Rumah yang harus dijaga, agar anak-anak bangsa masih punya satu alamat untuk mencari kebenaran yang tak terdistorsi.
Besok, siapapun yang menang, mari kita bersatu lagi. Kita tegakkan kembali kepala, saling menyapa dengan senyum, saling menguatkan dengan kerja. Karena persatuan kita bukan hanya untuk organisasi ini, tetapi untuk bangsa yang sedang menanti pelita — sekecil apapun.
Cikarang, kami datang. Dengan pena yang semoga ditajamkan, dengan hati yang in syaa Allah dijernihkan. Dengan janji: setelah kongres, kita pulang sebagai keluarga.













































