Groundbreaking Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Penyengat, Mendagri Tekankan Sejarah Asal Bahasa Indonesia

0
Mendagri Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad, Wagub Nyanyang Haris Pratamura serta sejumlah untuk Forkominda menekan sirine pada peletakan batu pertama Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Kamis (24/6/2026).

Tanjungpinang, batamtv.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian bersama Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura meresmikan dimulainya pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat, Tanjungpinang, Kamis (24/9/2026).

Peresmian ditandai dengan penekanan sirene oleh Mendagri Tito Karnavian bersama sejumlah unsur Forkopimda Kepri.

Dalam sambutannya, Tito mengatakan pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional memiliki arti penting untuk mengenalkan sejarah serta asal-usul bahasa Indonesia kepada generasi muda.

Menurutnya, secara historis bahasa Melayu telah lama digunakan sebagai bahasa pengantar dalam perdagangan di kawasan Nusantara. Penggunaannya juga semakin luas karena relatif mudah dipelajari.

“Karena mudah dipelajari dan sudah banyak digunakan, kemudian disepakati dalam peristiwa Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 sebagai bahasa Indonesia,” kata Tito.

Ia mengingatkan bahwa keputusan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Saat Sumpah Pemuda diikrarkan, Indonesia belum menjadi negara yang merdeka.

“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Padahal waktu itu Indonesia belum merdeka,” ujarnya.

Tito kemudian mengajak masyarakat melihat lebih jauh asal-usul bahasa Melayu yang menjadi akar bahasa Indonesia. Menurutnya, terdapat berbagai teori mengenai asal-usul bahasa Melayu, namun Pulau Penyengat memiliki jejak sejarah yang kuat melalui sosok Raja Ali Haji dan karya-karyanya.

“Pertanyaan kritisnya, dari mana bahasa Melayu itu berasal? Jejaknya banyak dan teorinya juga banyak. Tetapi yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” tutur Tito.

Atas dasar tersebut, Tito mengapresiasi Pemprov Kepri atas pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat.

Ia menilai keberadaan museum dan monumen tersebut nantinya tidak hanya menjadi penanda sejarah, tetapi juga sumber pembelajaran bagi masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.

“Ini bisa menjadi bukti fisik dan bahan pelajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi penghargaan kepada Raja Ali Haji,” katanya.

Tito juga berharap museum tersebut dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan sejarah bahasa Melayu kepada masyarakat di negara-negara yang turut menggunakan bahasa Melayu, seperti Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam.

Dalam kesempatan itu, Tito menyebut Gubernur Ansar telah menyampaikan rencana pengembangan museum yang akan memuat sejarah dan perjalanan bahasa Melayu hingga menjadi bagian penting dari identitas bangsa Indonesia.

Ia optimistis kawasan tersebut dapat berkembang menjadi salah satu objek wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau.

“Dalam perjalanan ke sini tadi, Gubernur Ansar sudah membicarakan bahwa museum ini akan berisi sejarah dan ceritanya. Saya yakin ini akan menjadi objek wisata yang menarik dan akan terus dikembangkan,” ujarnya.

Tito juga berpesan agar pembangunan dan keberadaan Museum dan Monumen Bahasa Nasional dijaga serta didukung secara berkelanjutan.

Ia berharap program tersebut dapat terus dilanjutkan oleh siapa pun yang nantinya memimpin Kepulauan Riau sehingga nilai sejarah Pulau Penyengat tetap terjaga.

“Siapa pun yang menjabat nantinya, saya harap bisa meneruskan, sehingga betul-betul menjadi bukti nyata bahwa bahasa pemersatu bangsa Indonesia berawal dari Pulau Penyengat,” tutupnya.

Sumber : Diskominfo Kepri