Rupiah Tertekan Imbas Ketegangan Timur Tengah dan Penutupan Selat Hormuz

0
Ilustrasi - Petugas menunjukkan pecahan mata uang dolar Amerika Serikat dan mata uang Rupiah di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Selasa (10/3/2026). ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/rwa/pri. (sumber : antaranews.com)

Jakarta, batamtv.com – Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu pagi melemah 22 poin atau 0,13 persen menjadi Rp16.920 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.898 per dolar AS.

Analis mata uang Lukman Leong menilai pelemahan tersebut dipengaruhi sentimen global, terutama penutupan Selat Hormuz yang berdampak pada pasar energi.

“Sentimen pasar cenderung risk off. Harga minyak masih tinggi dan investor bersikap hati-hati sambil memantau perkembangan,” ujarnya.

Selat Hormuz merupakan jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global. Penutupan jalur tersebut berdampak pada ekspor serta produksi energi di kawasan.

Harga minyak dunia tercatat meningkat, dengan West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran 88 dolar AS per barel dan Brent sekitar 98 dolar AS per barel.

Di sisi lain, muncul harapan meredanya ketegangan setelah laporan mengenai kemungkinan dialog antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump disebut menunda rencana serangan terhadap infrastruktur energi selama lima hari guna membuka ruang komunikasi.

Namun, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya perundingan dengan pihak AS dan menyebut informasi tersebut tidak benar.

Pelaku pasar masih mencermati dinamika geopolitik tersebut, yang dinilai berpotensi memengaruhi pergerakan mata uang serta stabilitas pasar keuangan global.

Sumber : antaranews.com