
Bogor, batamtv.com – Pertamina Patra Niaga mengungkapkan alasan penyesuaian harga bahan bakar minyak nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green. Kenaikan harga tersebut dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok BBM di pasar.
VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan Pertamina sebelumnya masih menahan harga BBM nonsubsidi meski harga impor mengalami kenaikan.
“Beberapa waktu kemarin itu masih bisa kami tahan, tetapi kenapa kok hari ini nggak bisa nahan? Karena kami harus memastikan ketersediaan di pasar itu ada barangnya,” ujar Sigit dalam Sarasehan Energi bertajuk “Transisi Energi dalam Memitigasi Konflik Global” di Universitas IPB, Bogor, Jawa Barat, Rabu.
Sigit menjelaskan, sejak pecahnya konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran, harga BBM yang diimpor Pertamina dari luar negeri lebih tinggi dibandingkan harga jual BBM di dalam negeri.
Menurutnya, Pertamina memahami posisi pemerintah yang perlu menjaga daya beli masyarakat. Jika harga BBM langsung disesuaikan mengikuti fluktuasi harga minyak dunia, biaya produksi dikhawatirkan ikut meningkat dan berdampak pada harga barang di pasar.
“Kalau biaya produksinya naik, akan berpengaruh ke harga jual produk yang dihasilkan. Berarti harga di pasar akan naik. Masyarakat konsumen bisa membeli, nggak? Tentu berat,” katanya.
Karena itu, Pertamina sempat menahan harga BBM nonsubsidi sejak Maret 2026 hingga awal Juni 2026.
“Pertamina mengimpor BBM dengan harga tinggi, terus kami jual di domestik harganya rendah. Uang yang kami dapat dari penjualan domestik untuk membeli BBM di market tidak lagi mendapatkan volume yang sama,” ujarnya.
Sigit menyebut selisih antara pendapatan dan pengeluaran membuat Pertamina tidak lagi bisa mengimpor BBM dengan volume yang sama.
Setelah berkonsultasi dan berdiskusi dengan pemerintah, Pertamina akhirnya melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Green.
Sumber : antarakepri










































