Pekerja Korban PHK Demo Depan Kantor PT ITS di Tiban

0
Pekerja Korban PHK Demo Depan Kantor PT ITS di Tiban. Tampak petugas berjaga jaga di depan kantor PT ITS Tiban, Senin (10/06). (foto : Muhammad Amin-batamtv.com)

BATAM, batamtv com – Sejumlah pekerja pulau bulan korban PHK menggelar aksi demo di kantor manajemen PT Indo Tirta Suaka (ITS) kawasan Tiban Sekupang Senin (10/06).

Demo ini merupakan aksi lanjutan karena pertemuan pekerja dan manajemen yang difasilitasi Disnaker maupun DPRD Batam beberapa waktu lalu belum membuahkan hasil.

Namun sayang aksi mereka kali ini kembali tidak membuahkan hasil yang mereka inginkan.

Pasalnya kantor PT ITS di kawasan Tiban itu tutup tanpa dihadiri personil top manajemen perusahaan.

Hal ini tentu saja menuai kekecewaan para pekerja korban PHK. Karena selain membuang waktu dan energi secara percuma, para pekerja juga membawa isteri mereka menyuarakan hak hak mereka.

“Tentu kami sangat kecewa karena kami merasa tidak dihargai manajemen,” ujar Syafri Jhoni, pekerja korban PHK kepada para wartawan di depan kantor PT ITS Tiban.

Menurut Syafri Jhoni, manajemen PT ITS tidak menunjukkan itikad baik karena dengan sengaja menutup kantornya.

Diketahui para pekerja korban PHK ini memiliki masa kerja yang terbilang lama, yaitu minimal masa kerjanya paling singkat 10 tahun.

Menurut Syafri Jhoni para pekerja korban PHK ini sengaja membawa isteri mereka dalam demo itu untuk menunjukkan bahwa solusi penyelesaian PHK sangat penting bagi pekerja dan keluarganya.

“Pak Toni Budiardjo yang mem-PHK kami, dia yang menandatangani surat PHK kami tapi dia malah lari gak ada ditempat,” sesal Syafri Jhoni.

“Baru kali ini kami bawa isteri demo karena untuk menunjukkan pentingnya momen ini demi kejelasan hak hak kami. Aksi sebelumnya hanya kami saja tanpa isteri,” tambah Syafri Jhoni.

Ditempat yang sama, S, isteri pekerja korban PHK menyayangkan sikap oknum pengurus Serikat Nikeuba dan oknum pengurus Koperasi.

Menurut S, para isteri pekerja korban PHK sangat mendukung suami mereka menggelar aksi ini.

“Kami para isteri menjadi saksi bagaimana dedikasi, loyalitas dan pengabdian suami kami membesarkan PT ITS. Namun sangat disayangi saat ini kami tidak dihargai oknum oknum petinggi manajemen. Bahkan bisa dikatakan oknum petinggi manajemen mencoba lari dari tanggungjawab persoalan ini,” sesal S.

Lebih lanjutnya S menceritakan suaminya yang sudah bekerja keras selama 26 tahun memberikan kontribusi terbaiknya kepada perusahaan, namun diujung pengabdiannya mendapatkan perlakuan kurang baik dari perusahaan.

Kendati demikian S tetap berbaik sangka bahwa sikap manajemen yang tidak menunjukkan itikad baik bukan sikap resmi dari pemilik perusahaan atau owner.

“Kami ingin jumpa tatap muka dengan pemilik perusahaan. Ingin mendengar langsung, ” tambahnya

Selain itu dia juga menyayangkan sikap oknum Ketua Serikat dan pengurus koperasi.

“Padahal kami bayar iuran yang dipotong gaji. Namun kalau mau pinjam untuk keperluan pendidikan anak anak dipersulit pengurus koperasi saat ini,” tambah S seraya membandingkan kinerja pengurus koperasi yang lama lebih baik dibanding pengurus saat ini.

Ungkapan kekecewaan juga ditumpahkan korban PHK lainnya Saheri.

“Saya mengabdi bekerja 33 tahun, saat di PHK dibayar 0,5 persen. Sekarang hari kerja tapi kantor tutup pasti sangat mengecewakan, ” ujar Saheri.

Kekecewaan juga ditumpahkan kordinator demo pekerja korban PHK, Virgilius Rutu.

Menurut Virgilius Rutu hak hak pekerja yang diabaikan berdasarkan perjanjian kerja bersama (PKB) yaitu besaran angka perkalian yang disanggupi manajemen yaitu sebesar 0,5 persen sedangkan pekerja meminta sesuai PKB yaitu sebesar 1,5 hingga 1,75 persen.

“Aksi hari ini merupakan aksi lanjutan karena kami sudah lapor ke Disnaker, DPRD Batam namun belum membuahkan hasil, ” ujar Virgilius Rutu mengawali keterangan pers kepada para awak media.

Sebelumnya dalam orasinya, Virgilius Rutu menyayangkan sikap oknum top manajemen PT ITS dan oknum Ketua Serikat Nikeuba.

“Apabila hak hak kami diabaikan perusahaan kami tetap akan melanjutkan aksi serupa kedepannya,” kata Virgilius Rutu yang disambut yel-yel teriakan rekan rekannya.

Hujan deras yang mewarnai aksi demo ini dimanfaatkan pekerja makan siang bersama.

Kendati sempat diguyur hujan deras, namun petugas baik dari Kepolisian dan TNI terus mengawal ketat aksi demo pekerja bersama istrinya tersebut. Demo yang dimulai sekitar pukul 10 pagi itu berlangsung cukup tertib.

Virgilius Rutu (tengah) dan Syafri Jhoni (kiri) saat memberikan keterangan pers

Awak media ini mencoba konfirmasi dengan menghubungi dan pesan whatsapp kepada pengurus Serikat Nikeuba, namun hingga berita ini diturunkan belum memperoleh jawaban.

Sementara itu ditempat yang sama mediator Disnaker Hendra Gunadi yang memantau demo mengakui bahwa pihaknya sudah memfasilitasi pertemuan mediasi selama beberapa kali.

“Kami sudah melakukan mediasi, dan yang datang staf perwakilan manajemen  namun tidak bisa bernegosiasi. Hanya membacakan keputusan perusahaan, ” ujar mediator Disnaker Hendra Gunadi.

Untuk diketahui pemutusan hubungan kerja yang dilakukan PT Indo Tirta Suaka (ITS ) pulau bulan Batam milik Salim Grup dilakukan bulan Maret 2024 lalu.

Para pekerja menolak besaran angka 0,5 persen perkalian pesangon. Mereka sudah melaporkan terkait masalah ini ke Disnaker dan DPRD Batam beberapa waktu lalu dan sudah dilakukan pertemuan namun belum membuahkan hasil. Karena pekerja menilai manajemen tidak menghadirkan perwakilan yang bisa membuat keputusan atau decision maker.

Editor : Oktarian

Reporter : Muhammad Amin