Oleh : Familus (Kepsek SMA PINTAR Kuantan Singingi, Riau)
INGAT iklan tolak angin PT. Sindo Muncul – Kuku Bima Energi Drink. Pastilah! ORANG PINTAR MINUM TOLAK ANGIN. ROSO…, ROSO.., ROSO…
Tiap hari kita disuguhkan iklan perusahaan farmasi yang memproduksi herbal dan jamu tersebut. Baik di televisi maupun di papan iklan/reklame yang bertebaran di pelbagai lokasi di setiap kota yang kita lewati. Jargon roso… roso…roso – begitu melekat di benak banyak orang.
Bintang iklannya pun silih berganti. Yang pasti orang ngetop semua.
Sebut saja Mbah Maridjan (juru kunci yang meninggal karena erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta). Ada artis terkenal seperti: Roy Marten, Ahmad Dhani, Denada, Maia Estianti, Lula Kamal, Marion Jola.
Ada pula olahragawan: Chrisjon (petinju), Ade Ray (binaraga), Prof. DR. Rhenald Kasali (Dosen UI Jakarta), Andi F Noya (presenter) dan mantan menteri BUMN Dahlan Iskan. Bahkan Dahlan Iskan relah tidak dibayar jadi bintang iklan tolak angin PT Sido Muncul tersebut.
Sungguh fenomenal!..
Iklan itu mengingatkan kita dengan SMA PINTAR di Teluk Kuantan, Kuantan Singingi, Riau. Mengapa, hanya orang pintarlah yang bisa melanjutkan studinya di SMA PINTAR tersebut.
Jargonnya mungkin bisa diplesetkan seperti ini: ORANG PINTAR SEKOLAH di SMA PINTAR. KAYUAH…. KAYUAH… KAYUAH.
Sekum IKKS Pekanbaru Arman Lingga Wisnu menyebut pendirian SMA PINTAR merupakan ide brilian H. Sukarmis. Pendirian SMA PINTAR memang diinisiasi oleh H. Sukarmis waktu masih menjabat sebagai Bupati Kuantan Singingi. Ide Sukarmis itu jauh melampaui zamannya. Hebat….saluuuuuut.
Kepada SAHABAT KANG ITAM, Arman berkisah suatu ketika H. Sukarmis menyampaikan kepadanya.
“Dinda Arman, tokoh pendidikan Riau, Drs. H. Soemardhi Thaher minta abang mengganti nama sekolah tetsebut menjadi SMA Unggulan.”
“Abang bersikeras namanya tetap SMA Pintar. Akhirnya Pak Soemardhi Thaher mengalah, Dinda.”
Itulah kegigihan H. Sukarmis mempertahankan nama sekolah pintar tersebut. Tak goyah oleh ombak dan gelombang kuat sekalipun.
Bagi masyarakat Kuantan Singingi, SMA PINTAR memang tidak asing lagi. Sekolah itu idaman banyak orang tua agar anaknya bisa melanjutkan pendidikan di situ. Tak hanya dari Kuantan Singingi – anak anak dari luar pun mencoba peruntungan tes agar bisa diterima di sekolah ini.
Deretan prestasi sudah diraih siswa SMA PINTAR ini. Termasuk pendidik (guru) nya. Alumninya juga sudah menyebar kemana-mana di seluruh pelosok tanah air.
Ada sosok di balik perolehan prestasi di SMA PINTAR yang cukup familiar. Namanya FAMILUS, S.Pd., M.Pd. Orangnya energik, pintar, muda, dan punya pandangan jauh ke depan.
Orang menyebutnya: “Kepsek PINTAR di Sekolah PINTAR. Siswanya juga PINTAR-PINTAR.”
Apakah julukan itu berlebihan? Tergantung siapa dan dari sudut mana menilainya.
“Saya rasa tidaklah berlebihan. Milus memang pintar. Jabatan itu (Kepala Sekolah SMA PINTAR) bukan hadiah melainkan perhargaan untuknya. Kompetensi, prestasi, profesionalitas, nyali, loyalitas, dan kemampuannya layak dan pantas untuk menahkodai sekolah tersebut.
Terlahir sebagai anak kedua dari dua bersaudara dari pasangan Fahmi dan Nuraida, 46 tahun lalu di Koto Sentajo, Sentajo Raya. Familus sedari kecil memang sudah pintar.
Perjalanan hidup Milus – sapaan akrabnya cukup panjang, berliku, dan sedikit menyesakkan dada. Bayangkan di usia belia 5 tahun, tepatnya 1982 ibunya Nuraida sudah meninggal dunia.
Bersama dengan abangnya Fahrisal waktu itu baru berusia 7 tahun, ia dibesarkan ayahnya Fahmi dan neneknya Ruhana. Ayahnya waktu itu guru STM (kini SMK 1) Telukkuantan. Dan terakhir pensiun di SMP 2 Telukkuantan.
Alumni STM Telukkuantan yang pernah diajar orang tua Milus pasti mengenal baik sosok orang tuanya Fahmi. Guru idola yang mengajar Matematika.
“Di tangan Bapak Fahmi, pelajaran Matematika itu terasa enteng.” ujar Andi alumni STM Telukkuantan yang bekerja di BUMN di Jakarta.
Milus kecil tinggal bersama neneknya di Rumah Godang Jintanjung – Koto Sentajo. Orang kampung memanggil nenek Milus, Ino Oru yang hidup bersama adiknya Niniak Kawi.
Bersama Ino Oru dan Niniak Kawi inilah Milus dan Isal tumbuh dan berkembang.
Ketika ayahnya nikah lagi dengan wanita plihannya Nurliansi yang akrab disapa Indam tahun 1984, Milus ikut ayahnya. Namun ia tak pernah melupakan neneknya.
Hidup dengan neneknya, Milus tak hanya jadi anak sholeh dan pintar, Milus dan Isal kelak juga jadi kebanggaan keluarga, sekolah, dan kampung halamannya.
Segala kebutuhan kedua kakak beradik ini dipenuhi oleh ayah sebagai guru dan neneknya seorang petani yang ulet.
Ditempa oleh pahit getirnya hidup, Milus berkembang menjadi anak mandiri. Di usia belia ia sudah mencuci pakainnya sendiri. Memasak nasi dan membantu ayah dan neneknya ke ladang. Kemana-mana ia dibawa neneknya. Ayahnya mengajar dari pagi hingga sore.
Milus tak pernah mengeluh. Ia tak menyusahkan ayah dan neneknya. Ia disayangi banyak orang. Apalagi Milus kecil itu comel, menggemaskan, ganteng, ramah, pintar mengaji, dan taat beribadah.
Pamannya Suwir yang akrab disapa Pak Lumut mengambarkan sosok kemenakannya seperti ini.
“Di mata saya kakak beradik (Milus dan abangnya Isal) adalah sosok pribadi yang sempurna. Kelakuan, kemandirian, kesholehan, dan kepintarannya sulit ditandingi anak seusianya ketika itu.”
Menurut Pak Lumut di sekolah mulai dari SD hingga SMA kedua kemenakannya itu selalu berprestasi (juara) dan rajin.
“Siapa yang tak bangga,” tambah Pak Lumut suatu ketika kepada SAHABAT JANG ITAM.
Hidup bersama nenek di rumah godang dijalani Milus sedari kecil hingga orang tuanya menikah dengan gadis pilihannya: Indam. Ia ikut pindah rumah mengikuti ayahnya. Kini ia tinggal di komplek perumahan guru SMA PINTAR di Sei Jering bersama istri tercintanya.
Nenek Milus, Ino Oru adalah petani ulet di kampung halamannya . Ia punya rangkiang tempat menyimpan padi di samping rumah godang yang mereka tempati.
Sekarang rangkiang itu tinggal kenangan. Tak terlihat lagi di halaman rumah godang itu. Seiring dengan meninggalnya Ino Oru, tak ada generasi penerus atau cucu dan cicit Ino Oru yang baladang padi.
Cucu-cucu dan cicit Ino Oru kini sudah “jadi orang” semua. Dan, pekerjaan sebagai petani mulai ditinggalkan.
Setamat SMA tahun 1996, Milus melanjutkan kuliah di IKIP Padang. Di perguruan tinggi yang kini bernama Universitas Negeri Padang (UNP), ia mengambil Jurusan Pendidikan Kimia. Ia tamat tahun 2000 dengan predikat sangat memuaskan.
Jenjang Strata Dua (S-2) Pendidikan IPA juga diselesaikannya di UNP. Kini Milus sedang menyelesaikan program doktoral/Strata Tiga (S-3) di Universitas yang sama.
Karier Milus sebagai pendidik dimulainya dari guru honor di SMA 1 Benai (2004 -2005). Kemudian diangkat jadi PNS di SMA 1 Sentajo Raya (2005 -2011).
Kemudian Milus pindah ke Dinas Pendidikan Kabupaten Kuantan Singingi (2011). Dipercaya sebagai Kepala Seksi SLTP. 2012 sampai sekarang Milus diangkat menjadi Kepala Sekolah SMA PINTAR.
Tak hanya mengantarkan siswanya berprestasi, Milus juga memberikan teladan kepada pendidik dan siswa di SMA PINTAR. Ia pernah meraih predikat Kepala Sekolah Terbaik Nasional.
“Hadiahnya visiting training ke negara matahari terbit (Jepang) dan negara ginseng (Korea Selatan).” ujarnya tersenyum.
Kini sudah 10 tahun Milus menahkodai sekolah kebanggaan masyarakat Kuantan Singingi itu. Sesuai dengan peraturan, jabatan kepala sekolah itu hanya dua periode (10 tahun). Setelah itu alih generasi.
“Kemana lagi Milus akan berlabuh? Waktu jua yang akan menjawabnya.”
Namun sejumlah orang masih berharap, siapapun nanti pengganti Milus haruslah putra daerah.
Mengapa? Status SMA/SMK/MA sekarang sudah dibawah Provinsi. Banyak orang khawatir jika kepala sekolahnya bukan putra daerah kelak banyak orang luar Kuantan Singingi yang akan mengisi sekolah tersebut.
Padahal waktu dibangun Bupati Sukarmis dulu, SMA masih di bawah Kabupaten. Dan tujuannya waktu itu untuk memasukan murid/siswa pintar lulusan SMP)MTs, lima (5) orang setiap kecamatan di Kuantan Singingi masuk SMA PINTAR.
Milus sebagai Kepala Sekolah sekarang dinilai masih bisa mempertahankan minimal 1 orang setiap kecamatan masuk ke sekolah tersebut.
Bila besok bukan “putra daerah” Kuantan Singngi lagi yang jadi kepalanya, bisa jadi orang luar Kuantan Singingi yang lebih banyak. Tengoklah nanti.
Itu bisa saja terjadi. Kerena sekarang Kuantan Singingi terasa tak jadi “tuan” lagi di negerinya sendiri.
Orang boleh bilang sumber daya Kuantan Singingi hebat. Tapi realitanya, tepuk dada tanya selera. Buktikan.
Untuk jabatan Sekretaris Daerah saja Kuantan Singingi mengimpor dari luar daerah. Tak tertutup kemungkinan suatu saat nanti Kepala OPD juga akan diisi orang luar daerah.
Hal ini bisa terjadi melihat perkembangan eksekutif vs legislatif terus bertempur. Ahaaaaa, alamak JANG.
Tahun 2020 Milus dipilih sebagai Ketua PGRI Kabupaten Kuantan Singingi (2020 – 2025). Ia terpilih secara aklamasi.
Bukti kehebatannya?
Dalam pandangan Arman, Milus sosok pendidik yang supel, gampang bergaul, sopan, dan santun kepada siapa saja.
Arman menilai Milus itu low profile dan punya visi jauh ke depan. Banyak orang langsung senang kalau sudah berkenalan dengannya.
“Pergaulannya melebihi usianya. Milus adalah potret guru masa kini. Pandai membawa diri. Tidak sombong dan memegang teguh adat.” ujar Arman tanpa maksud memuji Milus yang dari usia jauh darinya.
Sebagai mantan aktivis yang jujur, Milus konsisten dengan perjuangannya. Ia tidak mau dibujuk dengan materi. Benar-benar mencintai kebersamaan sesama urang Kuantan Singingi.
Menurut Arman dl tangan Milus kini PGRI Kuantan Singingi menjadi mitra pemerintah.
Bravo Milus, selamat HUT PGRI – kendati SAHABAT JANG ITAM terlambat mengucapkannya.












































