Indonesia Perluas Kerja Sama dengan AS, dari Pangan hingga Kecerdasan Buatan

0
Sumber : antara

Jakarta, batamtv.com – Indonesia terus mengeksplorasi peluang kerja sama strategis dengan Amerika Serikat (AS) di berbagai sektor, mulai dari pangan, penerbangan, pertambangan, pertahanan, hingga pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), guna memperkuat hubungan ekonomi kedua negara.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam pertemuan antara Duta Besar RI untuk AS, Indroyono Soesilo, dengan sejumlah perusahaan Amerika di Washington, atas inisiatif Dewan Bisnis AS-ASEAN.

Dalam keterangannya, Indroyono menegaskan bahwa hubungan ekonomi Indonesia dan AS tidak seharusnya hanya berfokus pada nilai perdagangan semata.

“Yang jauh lebih penting adalah bagaimana perdagangan dan investasi dapat menciptakan nilai tambah, memperkuat industri nasional, membuka lapangan kerja, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta menghadirkan teknologi baru ke Indonesia,” ujarnya.

Pertemuan itu mencerminkan luasnya minat bisnis AS di Indonesia. Di sektor penerbangan, Boeing memiliki hubungan panjang melalui penggunaan pesawat komersial oleh maskapai nasional, sekaligus membuka peluang penguatan rantai pasok industri komponen dalam negeri.

Sementara di bidang pertahanan dan kedirgantaraan, Lockheed Martin melihat peluang kerja sama dalam modernisasi alat utama sistem persenjataan serta penguatan kapasitas industri nasional.

Di sektor pertambangan, Freeport-McMoRan melalui PT Freeport Indonesia masih menjadi bagian penting dalam pengelolaan sumber daya mineral, termasuk investasi pada infrastruktur dan fasilitas pengolahan serta pemurnian.

Sektor pangan juga menjadi fokus utama, dengan Cargill berperan dalam perdagangan komoditas seperti jagung, kedelai, dan gandum. Selain itu, Caterpillar telah lama memasok alat berat untuk mendukung sektor pertambangan dan konstruksi di Indonesia.

Pada sektor konsumsi dan keberlanjutan, PepsiCo menjalankan berbagai inisiatif lingkungan, termasuk pengelolaan kemasan dan program penanaman pohon.

Di sisi lain, perkembangan teknologi turut memperluas dimensi kerja sama kedua negara. NVIDIA, misalnya, terlibat dalam pengembangan talenta AI bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI.

Walmart Foundation juga berkontribusi dalam penguatan rantai pasok berkelanjutan dan kesejahteraan petani, sementara Chubb mendorong peningkatan literasi keuangan dan manajemen risiko.

Direktur Indonesia Investment Promotion Center (IIPC) New York, Tessal Maharizky Febrian, mengungkapkan bahwa investasi AS ke Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai sekitar 1,7 miliar dolar AS.

Sementara itu, nilai ekspor Indonesia ke AS pada 2025 tercatat sekitar 31 miliar dolar AS atau sekitar 11 persen dari total ekspor nasional, dengan total perdagangan bilateral mencapai 43,8 miliar dolar AS.

Komoditas ekspor utama meliputi produk elektronika, tekstil, alas kaki, minyak sawit, furnitur, dan hasil perikanan. Adapun impor dari AS mencakup kedelai, kapas, gandum, pesawat terbang, mesin, produk kesehatan, bahan kimia, serta teknologi informasi dan telekomunikasi.

Indroyono menilai, meskipun hubungan ekonomi kedua negara sudah memiliki fondasi yang kuat, masih terdapat peluang besar untuk ditingkatkan.

Namun demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan yang perlu diperbaiki, seperti perlindungan hak kekayaan intelektual, konsistensi regulasi antara pusat dan daerah, efisiensi logistik, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pelaku usaha AS juga memberikan masukan terkait iklim investasi di Indonesia, termasuk pentingnya implementasi reformasi perizinan berbasis risiko yang dinilai mampu meningkatkan kepastian dan kemudahan berusaha.

Menurut Indroyono, di tengah ketatnya persaingan global, Indonesia tidak hanya bersaing dalam menarik investasi, tetapi juga harus mampu menjadi pusat pertumbuhan teknologi, talenta, industri, dan rantai pasok global.

Ke depan, kerja sama Indonesia dan AS diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai investasi dan ekspor, tetapi juga mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai nilai global, dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi negara dengan kekuatan di sektor industri, teknologi, inovasi, dan sumber daya manusia.

Sumber : antara