Bincang BI-Media : Batam Masih Primadona PMA Singapura, Kredit Korporasi Bergeser ke Industri Olahan

0
Bincang BI-Media : Batam Masih Primadona PMA Singapura, Kredit Korporasi Bergeser ke Industri Olahan. Foto atas: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto (tengah) pada forum Bincang-Bincang BI -Media, di Kantor BI Batam Center, Selasa (08/07). (foto : Azura Aronita-batamtv.com, - banner bawah : humas BI Kepri)

BATAM, batamtv.com – Diskusi santai bertajuk bincang-bincang BI & Media di Kantor Bank Indonesia Perwakilan Kepri di Batam Center mengungkap beberapa poin penting mengenai potret perekonomian Kepri disertai data dan angka angka.

Dari agenda rutin di kantor BI tersebut awak media batamtv.com mencatat beberapa poin penting, yaitu diantaranya Kepri terutama Batam masih daerah primadona tujuan investasi bagi investor Singapura atau Penanaman Modal Asing (PMA) asal Singapura.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto, Selasa (08/07) mengakui meski Singapura masih memimpin PMA di Kepri namun angka persentasenya sejak tahun 2020 hingga 2024 lalu mengalami fluktuatif.

Pada tahun 2020 persentase investasi asing atau penanganan modal asing (PMA) Singapura mencapai 77,5 persen dari Total PMA namun pada tahun 2024 turun menjadi 57,89 persen.

“Penanaman Modal Asing (PMA) masih menjadi tumpuan investasi di Kepri, dan Singapura merupakan negara pemegang total investasi PMA tertinggi, diikuti Tiongkok, Prancis dan Jepang” ujar Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto, Selasa (08/07).

Kendati tidak mengurangi faktor pemicu penurunan persentase realisasi investasi PMA Singapura, namun tidak dinafikkan, berdasarkan pemberitaan perekonomian Singapura sedang mengalami kelesuan dalam beberapa waktu terakhir ini bisa saja salah satu faktor pemicunya.

Dari sisi korporasi kredit, BI Kepri mencatat pertumbuhan positif namun cenderung melambat, dengan sebagian besar korporasi kredit diarahkan untuk pengolahan industri.

“Dari korporasi kredit, korporasi kredit sektor industri pengolahan yang terbesar mencapai 13,71 persen melampaui pangsa korporasi kredit sektor jasa transportasi, pergudangan, dan telekomunikasi sebesar 9,35 persen dan perdagangan besar, eceran sebesar 8,25 persen,” kata Rony Widijarto.

Sementara itu dari sisi kinerja perbankan Kepri, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Kepulauan Riau Rony Widijarto mengungkapkan kinerja Perbankan Kepri terpantau tumbuh baik di Bulan Mei tahun 2025 baik pertumbuhan kredit, Aset, maupun DPK dengan risiko kredit yang tetap terjaga.

“Penyaluran kredit masih dalam tren peningkatan jika dibandingkan dengan periode Desember 2024 yang tumbuh 10,93%.Di sisi lain NPL juga terus membaik di angka 2,90% pada Desember 2024 menjadi 2,83% pada Mei 2025,” jelasnya.

Prospek Perekonomian dan Upaya Mendorong Pertumbuhan Ekonomi

Pada kesempatan yang sama Rony Widijarto memaparkan potret ekonomi Kepri pada triwulan I 2025 mampu tumbuh sebesar 5,16% (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya dan tumbuh lebih tinggi dari Nasional.

“Perekonomian Kepri diprakirakan tumbuh menguat pada tahun 2025 ini dalam kisaran 4,8-5,6%, atau sedikit lebih tinggi dibandingkan prakiraan pertumbuhan ekonomi nasional.Hal tersebut didukung pertumbuhan sektor-sektor unggulan di Kepri antara lain Industri Pengolahan, Konstruksi, Pertambangan dan perdagangan,” jelasnya.

Dari segi risiko Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2025, Rony memaparkan inside risk yang terdiri beberapa faktor seperti Kebijakan moneter yang lebih akomodatif seiring dengan tren inflasi yang melandai diharapkan dapat mendorong konsumsi masyarakat, Implementasi kebijakan short term visa serta kebijakan pendorong pariwasata lainnya. Dan berlanjutnya investasi dengan pengembangan sejumlah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Kepri.

Downside risk -nya yaitu: gejolak geopolitik yang masih berlanjut dapat memberikan gangguan terhadap perekonomian global hingga domestik, pemerintahan Transisi AS sebagai mitra dagang utama perlu dicermati, khususnya terkait dengan kebijakan perdagangan internasional,” kata Rony Widijarto.

Untuk itu BI merekomendasikan sejumlah upaya pertumbuhan ekonomi seperti: mendorong hilirisasi bahan baku dan sumber daya alam yang ada di Kepri untuk memperkuat rantai nilai lokal (LVC), mendorong normalisasi frekuensi dan memperluas rute penerbangan baru di wilayah Kepri untuk mendukung peningkatan kunjungan wisatawan, memperkuat aspek 3A dan 2P (Akses, Amenitas, Atraksi, Pelaku, dan Promosi) sebagai upaya mendorong pemulihan sektor pariwisata, meningkatkan investasi melalui penguatan dan promosi.

“Serta meningkatkan perluasan digitalisasi sistem pembayaran dan elektronifikasi transaksi pemerintah daerah dan memperkuat program pemberdayaan UMKM sehingga dapat menghasilkan produkproduk unggulan yang berorientasi ekspor,” tambahnya.

 

Penanggungjawab : Oktarian

Redaktur : Pariadi

Reporter : Azura Aronita