OPINI, Batamtv.com – Inovasi yang sedang berlangsung dewasa ini, telah menyentuh banyak aspek kehidupan. Ada yang bergerak di dunia pendidikan, kesehatan, pasar digital, sampai ke persoalan jodoh, tidak luput dari adanya inovasi. Namun ketika inovasi yang ada tersebut masih belum bisa hadir dalam kehidupan sehari-hari penduduk tempatan dalam menikmati pelayanan air bersih, apa yang harus kita lakukan?.
Sepertinya harus ada gebrakan untuk menerapkan inovasi dalam pelayanan air bersih, bukan saja di wilayah-wilayah perbatasan di Kepulauan Natuna atau pun Kepulauan Anambas, akan tetapi di seluruh wilayah Kepulauan Riau. Bukan mengapa, air bersih yang dewasa ini menjadi pembicaraan menarik di banyak kedai kopi, pasar-pasar, kelompok-kelompok arisan, sampai ke jemaah masjid, masih menghiasi laman media sosial kita. Ada saja orang yang mengekspos tentang air bersih di kediaman atau kampung dalam kondisi kering.
Bila musim hujan, air bersih di rumah-rumah penduduk kawasan perkotaan Tanjungpinang, Karimun, Bintan atau di tempat padat lainnya, mengalir dengan deras. Namun ketika masuk musim panas, ini akan menjadi masalah. Air bersih yang dilayani melalui jaringan pipa perusahaan air minum daerah kerap tidak mengalir. Kadang-kadang langsung bergilir dari satu kawasan pemukiman dengan kawasan pemukiman lainnya. Dan kondisi seperti ini terus berlangsung sepanjang tahun.
Dilihat dari statistik jumlah penduduk, sepertinya penduduk Kepulauan Riau tidaklah sebanyak Singapore. Penduduk Kepulauan Riau pada 2025, tercatat berjumlah 2.213.500 jiwa. Sementara penduduk Singapore sudah mencapai 6,11 juta jiwa (https://sijori.id). Ajaibnya penduduk di Singapore bisa terlayani air bersih dengan baik tanpa ada masalah berarti di dalamnya, padahal semua juga tau, Singapore tidak memiliki sumber air bersih seperti yang dimiliki oleh beberapa kabupaten/kota di Kepulauan Riau. Malah berdasarkan data yang ada, Kepulauan Riau masih kaya dengan jumlah sumber air baku dibanding Singapore.
Demikian juga dengan Arab Saudi yang sampai saat ini tidak terlalu “berkicau” dengan masalah air bersih. Selain memanfaatkan sumber air baku yang tidak seberapa itu, Arab Saudi tercatat menggunakan sistem desalinasi air laut menjadi air tawar terbesar kedua di dunia. Dan hasilnya pelayanan air bersih di sana tercukupi dengan merata.
Sepertinya Kepulauan Riau memang harus menetapkan kebijakan yang lebih teknis agar persoalan air bersih tidak lagi berulang setiap tahun. Ini penting mengingat, air bersih dalam kehidupan masyarakat merupakan kebutuhan dasar (basic needs) yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Melalui ketersediaan air bersih yang mencukupi untuk seluruh penduduk, menjadikan aspek kesehatan terjaga. Air bersih akan berfungsi sebagai sumber daya yang benar-benar memiliki peran penting dalam kehidupan orang ramai. Lantas, strategi seperti apakah yang perlu diterapkan agar persoalan air bersih di Kepulauan Riau ini bisa diselesaikan secara efisien, efektif dan terarah?
Intervensi Inovasi Teknologi Desalinasi Air Laut
Mengingat sumber air baku yang ada di wilayah-wilayah padat penduduk di Kepulauan Riau saat ini mengalami tekanan yang cukup kuat dari sisi lingkungan hidup, mengharuskan inovasi teknologi desalinasi air laut menjadi air tawar harus segera diterapkan. Alasannya untuk menciptakan alternatif baru pemenuhan air bersih yang dewasa ini terus meningkat. Secara nasional pertumbuhan kebutuhan air bersih setiap tahun terus menanjak tinggi mencapai 6,40% pada 2023. Sementara untuk wilayah Kepulauan Riau, pun sama, sampai-sampai produksi yang ada terus digenjot secara maksimal.
Berdasarkan data BPS, produksi air bersih oleh perusahaan air minum di Kepulauan Riau dari 2019-2023, cenderung meningkat. Terakhir pada 2023, produksi air bersih di Kepulauan Riau secara efektif baru mencapai 4.163 liter per detik, padahal jumlah produksi ini belum mampu memanfaatkan potensi produksi air bersih secara total di Kepulauan Riau sebesar 4.734 liter per detik. Sementara kebutuhan air kita jauh lebih besar.
Di sinilah peluang inovasi teknologi desalinasi air laut menjadi air bersih mendesak untuk segera dilakukan. Pemerintah harus memiliki grand design air bersih untuk wilayah Kepulauan Riau yang bercorak kepulauan di mana laut menjadi penghubung antara satu pulau dengan pulau lain. Di lain sisi, pengelolaan desalinasi yang terintegrasi dengan sistem modern, dapat menekan kesenjangan pelayanan air bersih antara wilayah perkotaan padat penduduk dengan pulau-pulau yang penduduknya jarang.
Pemanfaatan desalinasi di Kepulauan Riau menjadi alternatif penting untuk mengatasi masalah air bersih dalam jangka menengah dan panjang. Air laut melimpah. Tidak tergantung musim seperti sumber air baku yang ada. Serta menjadi penawar bagi 25% umat manusia yang menderita akibat kekurangan air bersih setiap harinya (Fiorenza dkk, 2003).
In sya Allah. Ranai, 17 April 2026.
Penulis : Ellyzan Katan












































