OPINI, Batamtv.com – Dulu, anak murid SMA tidak berani melawan guru. Kalau dihukum, apakah dicubit, dilempar kapur, atau dipukul pakai penggaris, sang murid cuma bisa meringis sambil tersenyum kecut. Melapor ke rumah, boro-boro dibelain, orang tua kadang malah menambah hukuman.
Kini, si murid justru berani merokok di lingkungan sekolah. Dan guru yang menegur, seperti yang terjadi di SMAN I Cimarga, Kabupaten Lebak, Banten, gurunya (Kepala Sekolah) bahkan dipolisikan orang tua. Tidak itu saja, para murid satu sekolah pun ikut komplain dengan mogok belajar.
Itulah salah satu dampak era digital. Peristiwa apa pun yang terjadi di lingkungan lembaga pendidikan bisa di viralkan dan ditanggapi berbagai pihak.
Saat ini, coba perhatikan meja makan Anda saat keluarga berkumpul. Berapa orang yang sibuk dengan ponselnya? Ayah scrolling berita. Ibu balas chat arisan. Anak sulung browsing tugas. Adiknya nonton video TikTok. Berkumpul sih, tapi ya… sendiri-sendiri.
Begitulah potret kita sekarang. Teknologi sudah masuk ke mana-mana—rumah, kamar tidur, bahkan ke toilet pun ada yang bawa HP. Semua pegang gadget. Ada yang cari info, ada yang cari hiburan, ada juga yang cari penghasilan sampai dini hari. Dan yang berubah bukan cuma gaya hidup. Pendidikan ikut kena dampaknya.
Zaman Sudah Beda
Era digital membawa banyak perubahan signifikan dalam pendidikan. Di satu sisi, kemudahan akses informasi membuat proses belajar semakin efektif dan cepat.
Inovasi pembelajaran melalui kelas virtual, munculnya komunitas belajar online, serta metode baru yang memungkinkan siswa memahami materi lebih dalam menjadi bukti bahwa teknologi mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia. Guru pun bisa memperkaya kompetensinya.
Dahulu kalau mau belajar harus datang ke sekolah, duduk manis, dengarkan guru. Buku paket itu-itu saja. Kalau tidak paham? Ya tunggu besok tanya lagi ke guru. Sekarang mah beda. Ketik saja di Google, keluar jutaan hasil dalam sepersekian detik. Mau belajar dari profesor luar negeri? Bisa. Gratis lagi.
Mahasiswa sekarang tidak terlalu bergantung sama dosen seperti dulu. Bahan kuliah? Cari sendiri di internet. Jurnal internasional? Tinggal download. Video tutorial dari MIT atau Stanford? Tonton kapan saja. Ada platform macam Coursera, Khan Academy, bahkan YouTube—semua jadi guru.
Inovasi pembelajaran juga makin kreatif. Kelas virtual sudah biasa. Guru bisa bikin perpustakaan digital, metode pembelajaran interaktif yang bikin siswa lebih mengerti, bahkan upgrade skill lewat webinar atau kursus online. Ini semua sisi positifnya—dan memang banyak.
Sekarang, pendidikan sudah berada dan bisa di akses dalam genggaman.
Muncul Komunitas-Komunitas Baru
Yang menarik, era digital melahirkan komunitas belajar yang dulu tidak pernah terbayangkan. Siswa SMA di Papua bisa diskusi sama temannya di Aceh lewat forum online. Guru di pelosok desa bisa belajar dari rekan di Jakarta tanpa harus naik pesawat. Bahkan ada grup WhatsApp orang tua yang saling kasih tips dampingi anak belajar—kadang malah lebih heboh dari anaknya.
Teknologi informasi juga bantu sistem pendukung keputusan. Data siswa bisa dianalisis buat lihat pola belajar mereka. Kurikulum disesuaikan kebutuhan. Penilaian lebih objektif pakai sistem digital terstandar.
Peningkatan SDM pun lebih gampang sekarang. Guru yang dulu susah ikut pelatihan karena jauh atau mahal, sekarang bisa workshop online dari rumah sambil ngopi. Perpustakaan online buka akses ke ribuan buku tanpa perlu rogoh kocek beli buku fisik yang mahal.
Tapi… Ada yang Hilang Juga
Sayangnya tidak semua cerita manis. Di balik kemudahan ini, ada harga yang harus dibayar. Pendidikan kita sekarang terintegrasi dengan pendidikan dunia. Kedengarannya keren, tapi artinya akses terbuka lebar—termasuk ke konten yang belum tentu cocok sama nilai atau budaya kita. Anak-anak bisa akses apa aja, termasuk yang tidak layak buat usia mereka.
Kecanduan smartphone jadi masalah besar. Banyak siswa lebih suka scroll Instagram atau TikTok daripada baca buku pelajaran. Fokus terpecah kemana-mana. Tulisan tangan makin jelek karena terbiasa ngetik. Interaksi tatap muka berkurang—lebih enak chat daripada ngobrol langsung.
Yang lebih bahaya: batas antara informasi sejati sama hoaks makin tipis. Siswa yang belum punya literasi digital bisa ketipu berita palsu. Plagiasi? Gampang banget, tinggal copy-paste. Nilai kejujuran akademik? Mulai luntur.
Belum lagi soal kesehatan. Mata minus makin muda usianya. Postur tubuh rusak gara-gara kelamaan nunduk lihat HP. Tidur terganggu karena main gadget sampai tengah malam. Ini semua real problem yang kadang kita abaikan.
Siapa yang Tanggung Jawab?
Teknologi informasi memang membawa banyak perubahan—positif dan negatif. Tapi teknologi itu sendiri netral. Tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Nah, di sinilah peran orang tua dan masyarakat jadi sangat penting. Siswa tidak boleh dibiarkan main di dunia digital tanpa pengawasan.
Orang tua harus aktif terlibat. Bukan cuma melarang atau batasi, tapi dampingi dan didik. Ajarin anak cara memilah informasi mana yang benar mana yang hoaks. Ajak diskusi tentang apa yang mereka temukan di internet. Bikin kesepakatan: kapan boleh pegang gawai, kapan harus lepas dan ngobrol sama keluarga.
Sekolah juga punya tanggung jawab besar. Literasi digital harus masuk kurikulum—bukan cuma cara pakai teknologi, tapi juga etika digital, keamanan online, kemampuan berpikir kritis. Guru perlu dibekali kompetensi buat integrasikan teknologi dalam pembelajaran dengan bijak, bukan asal pakai.
Masyarakat juga harus peduli. Jangan cuma nyalahin anak muda yang kecanduan perangkat. Kita semua—termasuk orang dewasa—juga sering kecanduan scrolling tanpa sadar. Jadi ya mulai dari diri sendiri dulu.
Berkumpul dengan Benar-Benar Berkumpul
Era digital tidak akan berhenti. Teknologi akan terus maju, mau tidak mau. Yang bisa kita lakukan adalah memastikan kemajuan ini bawa manfaat benaran, bukan malah bikin generasi yang pinter secara digital tapi miskin interaksi sosial dan empati.
Jadi next time pas keluarga lagi berkumpul di meja makan, coba deh HP-nya dijauhkan dulu. Ngobrol benaran. Ketawa bareng. Dengerin cerita anak tentang sekolahnya hari ini. Karena bagaimanapun canggihnya teknologi, kehangatan keluarga yang berkumpul—benar-benar berkumpul, tidak sambil scrolling—itu tidak akan pernah bisa digantikan aplikasi apapun.
Dan percaya lah, momen itu lebih berharga dari notifikasi media sosial manapun. Era digital memang mendatangkan banyak transformasi, termasuk guru sekarang tidak bisa lagi menghukum murid sembarangan, walaupun alasannya untuk pembinaan.*
Oleh : Ridarman Bay
Penulis adalah Wakil Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Kepri










































