
Tanjungpinang, batamtv.com – Hulubalang Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau Masa Khidmat 2026–2027 resmi dikukuhkan di Balai Adat Seri Indra Sakti, Taman Gurindam 12, Tanjungpinang, Senin (8/6/2026).
Pengukuhan tersebut berdasarkan Surat Keputusan LAM Provinsi Kepulauan Riau Nomor 2/LAM KEPRI/IV/2026 tertanggal 9 Mei 2026.
Dato’ Wira Setia Utama Endy Maulidi dikukuhkan sebagai Panglima Besar. Prosesi ditandai dengan pemasangan pakaian kebesaran adat berupa tanjak, keris, dan tongkat komando oleh Ketua LAM Kepulauan Riau, Raja Al-Hafiz Raja Ismail.
Pemasangan atribut tersebut menjadi simbol amanah dan tanggung jawab dalam menjaga marwah adat Melayu di Bumi Segantang Lada.
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, yang hadir dalam kegiatan tersebut menegaskan bahwa Kepri merupakan salah satu rumah besar masyarakat rumpun Melayu di Indonesia.
Berdasarkan data kependudukan, suku Melayu menjadi kelompok etnis terbesar di Provinsi Kepri dengan jumlah sekitar 652.929 jiwa atau 29,97 persen dari total penduduk.
Di tengah arus globalisasi dan modernisasi, masyarakat Melayu menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan nilai budaya dan identitas kemelayuan sebagai jati diri daerah.
“Lembaga Adat Melayu memiliki peran strategis dalam menggali, memelihara, membina, dan mengembangkan nilai-nilai adat serta budaya Melayu Kepulauan Riau sebagai upaya mewujudkan pepatah Tak Kan Melayu Hilang di Bumi,” ujar Ansar.
Dalam tamadun Melayu, hulubalang bukan sekadar simbol keberanian, melainkan sosok yang menjunjung tinggi amanah, menjaga kehormatan negeri, dan menjadi teladan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Hulubalang memiliki posisi penting sebagai lambang kesetiaan kepada negeri, keberanian menegakkan kebenaran, serta kebijaksanaan dalam menjaga keseimbangan antara adat, syariat, dan kehidupan sosial masyarakat,” ungkap Ansar.
Ia menegaskan, amanah yang diemban para hulubalang saat ini sangat besar. Mereka tidak hanya bertugas menjaga adat dan nilai luhur Melayu, tetapi juga menjadi penyejuk dalam perselisihan, perekat kehidupan sosial, serta penjaga harmoni di tengah masyarakat.
Ansar menilai tantangan masyarakat saat ini lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Jika dahulu hulubalang menghadapi ancaman fisik, kini tantangan yang dihadapi berupa lunturnya adab, berkurangnya penghormatan kepada orang tua dan guru, maraknya fitnah dan ujaran kebencian, hingga melemahnya kebanggaan generasi muda terhadap budaya Melayu.
“Hulubalang harus tampil sebagai teladan di tengah masyarakat, baik dalam akhlak, tutur kata, perilaku, maupun semangat pengabdian. Kehadiran hulubalang harus mampu menjadi penuntun dan penguat nilai-nilai kemelayuan di tengah perubahan zaman,” tegasnya.
Gubernur Ansar juga mengingatkan bahwa Kepulauan Riau merupakan salah satu pusat peradaban Melayu yang telah melahirkan banyak ulama, pemikir, sastrawan, dan pemimpin besar.
Menurutnya, warisan paling berharga yang harus terus dijaga bukan hanya peninggalan sejarah, tetapi juga nilai-nilai luhur yang menjadi pedoman hidup masyarakat Melayu.
Menutup sambutannya, Ansar menyampaikan ucapan tahniah kepada seluruh Hulubalang LAM Kepulauan Riau yang baru dikukuhkan.
“Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala memberikan kekuatan lahir dan batin, melimpahkan kebijaksanaan dalam setiap langkah, serta menjadikan saudara-saudara sebagai penjaga marwah adat dan kebanggaan masyarakat Melayu Kepulauan Riau,” tutupnya.
Turut hadir Wakil Gubernur Kepri Nyanyang Haris Pratamura, Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza, Ketua LAM Kepri Raja Al-Hafiz Raja Ismail, unsur Forkopimda Kepri, kepala OPD Pemprov Kepri, Ketua MUI Kepri Bambang Maryono, Ketua Baznas Kepri Arusman Yusuf, serta jajaran pengurus LAM Kepri.
Penanggungjawab : oktarian
Editor : pariadi
Reporter : dwi susilo









































