99 Tewas akibat Perang Saudara di Suriah, Negosiasi Gencatan Senjata Berlangsung

0
Pasukan yang loyal dengan Presiden Interim Suriah Ahmed Al Sharaa saat menaiki kendaraan bak terbuka di Kota Latakia, 9 Maret 2025.(Foto : Omar Haj Kadour/AFP)

Damaskus,batamtv.com, – Pasukan pemerintah Suriah bergerak menuju Kota Sweida, wilayah selatan negara itu, Senin (14/7/2025), guna meredam bentrokan berdarah (perang saudara) antara kelompok pejuang Druze dan suku Badui.

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan, sedikitnya 99 orang tewas sejak pertempuran pecah pada Minggu. Jumlah korban mencakup 60 warga Druze, termasuk empat warga sipil, 18 pejuang Badui, 14 aparat keamanan, serta tujuh orang tak dikenal yang berseragam militer.

Di tengah kekerasan yang meningkat, Israel mengaku menyerang beberapa tank Suriah sebagai bentuk peringatan. “Serangan ini pesan jelas bagi rezim Suriah. Kami tidak akan membiarkan Druze di Suriah disakiti,” tulis Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant di akun X. Israel diketahui memiliki komunitas Druze yang signifikan.

Jurnalis AFP melaporkan, pasukan Suriah telah merebut Desa Al-Mazraa, yang sebelumnya dikuasai Druze dan Badui. Komandan pasukan, Ezzeddine al-Shamayer, menyebutkan, tentara kini bergerak menuju pusat Kota Sweida. Kementerian Dalam Negeri Suriah menyatakan, tentara bersama pasukan keamanan internal semakin mendekati pusat Provinsi Sweida.

Negosiasi di tengah ketegangan Bassem Fakhr, juru bicara kelompok Men of Dignity, salah satu faksi Druze terbesar di Sweida, mengungkapkan, negosiasi tengah berlangsung antara tokoh masyarakat dengan perwakilan pasukan keamanan umum dan Kementerian Pertahanan.

Tujuannya adalah menemukan jalan keluar damai. Seruan gencatan senjata disampaikan otoritas keagamaan Druze pada Senin malam. Meski demikian, Sheikh Hikmat al-Hijri, salah satu pemimpin spiritual Druze, menolak kehadiran pasukan keamanan umum di provinsi itu. Ia bahkan meminta perlindungan internasional.

Ketakutan akan pembantaian massal Bentrokan di selatan Suriah mencerminkan tantangan besar bagi pemimpin sementara, Ahmed Al Sharaa, yang mengambil alih kekuasaan setelah menggulingkan Presiden Bashar Al Assad pada Desember 2024, mengakhiri hampir 14 tahun perang saudara. Druze merupakan kelompok minoritas yang menganut ajaran esoteris dan berakar dari Islam Syiah.

Sebelum perang, populasi mereka di Suriah diperkirakan mencapai 700.000 jiwa, sebagian besar tinggal di Sweida. Setelah bentrokan dengan pemerintah pada April dan Mei, tercapai kesepakatan bahwa kelompok Druze bertanggung jawab menjaga keamanan wilayahnya sendiri. Namun, pertempuran terbaru memicu kekhawatiran baru. “Kami hidup dalam ketakutan luar biasa. Peluru beterbangan di mana-mana.

Sebagian besar toko tutup,” kata Abu Taym (51), seorang warga Sweida, kepada AFP. “Kami takut peristiwa di pesisir terulang,” ujar Amal (46), merujuk pada pembantaian sekitar 1.700 warga sipil, sebagian besar dari komunitas Alawi, di barat laut Suriah pada Maret.

Amal menegaskan, pihaknya tidak melawan negara, tetapi mereka menolak menyerahkan senjata kalau negara tidak memperlakukan semua orang setara.

Pemicunya, penculikan balasan Diketahui, perang saudara ini dipicu penculikan seorang pedagang sayur Druze oleh orang-orang bersenjata Badui di jalan raya menuju Damaskus pada Minggu. Peristiwa itu memicu aksi penculikan balasan.

Meski para sandera telah dibebaskan, pertempuran terus berlanjut, termasuk tembakan mortir yang menghantam desa-desa di sekitar Sweida. Menteri Dalam Negeri Suriah Anas Khattab, melalui akun X, menyebut kurangnya lembaga negara dan aparat keamanan sebagai penyebab utama ketegangan di Sweida.

Menurut Observatorium, anggota suku Badui yang mayoritas beragama Islam Sunni kerap berpihak pada pasukan keamanan dalam bentrokan dengan Druze. Konflik antarkelompok ini memang telah berlangsung lama, sesekali pecah menjadi kekerasan terbuka.

Selain itu, rentetan kekerasan yang menyasar minoritas, termasuk serangan mematikan terhadap gereja di Damaskus pada Juni lalu, semakin mengguncang kepercayaan publik terhadap kemampuan pemerintah Suriah yang baru untuk melindungi seluruh rakyatnya.

Penanggungjawab : Oktarian

Editor                   : Sofyan Atsauri

Sumber                : Kompas.com