
Moskow,batamtv.com, – Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres bakal bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin pada Kamis (24/10/2024) untuk membahas konflik Ukraina. Menurut Pemerintah Rusia, Sekjen PBB tersebut akan menghadiri KTT BRICS di Kota Kazan, Rusia tengah.
Dijelaskan bahwa forum tersebut digunakan Rusia untuk menunjukkan kepada Negara Barat bahwa upaya untuk mengisolasi Rusia atas serangan Ukraina telah gagal.
Di sela-sela KTT tersebut, Antonio Guterres bakal bertemu dengan Vladimir Putin untuk membahas perang Ukraina. “Diharapkan bahwa seiring dengan kegiatan PBB, mereka akan menyentuh isu-isu topikal pada agenda internasional, termasuk krisis Timur Tengah dan situasi di sekitar Ukraina,” kata Kremlin, dilkutip dari AFP pada Selasa (22/10/2024).
Filosofi Nebeng Artikel Kompas.id PBB tidak mengonfirmasi pertemuan yang direncanakan, dan Ukraina mengecam keras keputusan Guterres untuk bertemu Putin. Ketika ditanya dalam sebuah pengarahan di New York apakah Guterres bermaksud untuk melakukan perjalanan ke Kazan akhir minggu ini, wakil juru bicaranya Farhan Haq mengatakan kepada wartawan: “Pengumuman tentang perjalanannya akan dilakukan kemudian”.
Sebelumnya, Guterres telah berulang kali mengkritik serangan militer Rusia terhadap Ukraina dan mengatakan hal itu merupakan hal yang berbahaya bagi dunia.
Tetapi Kementerian Luar Negeri Ukraina mengatakan pertemuan dengan Putin sekarang tidak memajukan tujuan perdamaian, malah justru merusak reputasi PBB.
“Sekretaris Jenderal PBB menolak undangan Ukraina ke KTT Perdamaian Global pertama di Swiss. Namun, ia menerima undangan ke Kazan dari Putin,” kata Kementerian dalam sebuah posting di X.
Guterres telah menyerukan perdamaian adil yang menghormati hukum internasional dan integritas teritorial Ukraina. Selama kunjungan terakhirnya pada April 2022, dua bulan setelah Rusia melancarkan serangannya, Guterres telah membahas dengan Putin proposal untuk bantuan kemanusiaan dan evakuasi warga sipil dari zona konflik.
Tidak ada tanda-tanda bahwa Kyiv atau Moskwa belum terbuka untuk pembicaraan yang lebih luas tentang penyelesaian untuk mengakhiri konflik selama dua setengah tahun. Namun Presiden Rusia menuntut Ukraina untuk menyerah secara efektif dengan menyerahkan lebih banyak wilayah di selatan dan timurnya sebagai prasyarat gencatan senjata.
Akan tetapi, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menolak untuk mempertimbangkan penyerahan tanah guna mengamankan kesepakatan damai dan mengesampingkan pembicaraan langsung dengan Putin.
Berbicara di Perserikatan Bangsa-Bangsa bulan lalu, Zelensky mengatakan kepada Dewan Keamanan bahwa Rusia merupakan anggota tetap dan bahwa Moskwa “hanya dapat dipaksa untuk berdamai”.
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : Kompas.com









































