Pulau Penyengat Didorong Jadi Destinasi Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Sejarah dan Budaya Melayu

0
Masjid Raya Sultan Riau, Pulau Penyengat terlihat dari udara. Pulau Penyengat terletak di Kota Tanjungpinang menjadi jembatan lintas generasi menuju pariwisata berkelanjutan. (Dokumen DISKOMINFO KEPRI / Ogi)

Tanjungpinang, batamtv.com – Pulau Penyengat terus dikembangkan sebagai destinasi wisata berbasis sejarah, budaya, dan religi yang berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau.

Pulau ini dikenal memiliki nilai historis tinggi sebagai pusat peradaban Melayu-Islam, termasuk perannya dalam perkembangan tata bahasa Melayu melalui karya Raja Ali Haji. Kawasan tersebut juga telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan diarahkan menjadi destinasi wisata halal unggulan.

Pengembangan sektor pariwisata sejalan dengan kebijakan nasional dalam Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2025 yang menekankan konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan melalui pendekatan regeneratif.

Konsep tersebut menitikberatkan pada keterlibatan masyarakat serta dampak positif terhadap lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.

Presiden Prabowo Subianto juga mendorong implementasi Gerakan Indonesia ASRI dan Gerakan Wisata Bersih guna menjaga kebersihan serta kenyamanan destinasi wisata.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di bawah kepemimpinan Ansar Ahmad terus melakukan penataan kawasan Pulau Penyengat, meliputi perbaikan infrastruktur jalan, drainase, penerangan, fasilitas umum, hingga pengelolaan lingkungan.

Selain itu, pengembangan pariwisata turut melibatkan masyarakat melalui penguatan UMKM, pengelolaan homestay, serta penyelenggaraan atraksi berbasis budaya lokal.

Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepulauan Riau Hasan menyatakan bahwa Pulau Penyengat memiliki potensi besar sebagai destinasi unggulan yang mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Ia menjelaskan, pendekatan pariwisata regeneratif menjadi kunci dalam memastikan keberlanjutan pengembangan kawasan.

Data kunjungan wisatawan periode Januari hingga Maret 2026 menunjukkan sekitar 6.200 wisatawan berkunjung ke Pulau Penyengat, baik dari dalam negeri maupun mancanegara, termasuk Malaysia, Singapura, dan sejumlah negara di Eropa.

Menurut Hasan, peningkatan jumlah kunjungan tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha di sektor pariwisata, seperti UMKM dan layanan akomodasi.

Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau bersama Pemerintah Kota Tanjungpinang juga melakukan pembinaan terhadap pelaku usaha agar mampu memberikan layanan yang berkualitas.

Masyarakat diimbau untuk menjaga kebersihan serta kelestarian lingkungan guna mempertahankan daya tarik wisata.

Ke depan, pemerintah daerah berencana melanjutkan pembangunan, termasuk monumen bahasa, peningkatan penerangan jalan, serta revitalisasi balai adat sebagai bagian dari penguatan destinasi.

Pembangunan tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi berkelanjutan bagi masyarakat setempat.