Jakarta, batamtv.com – Anggota Komisi II DPR RI, Azis Subekti, mendorong masyarakat internasional untuk beralih dari paradigma kemenangan mutlak menuju koeksistensi dalam menghadapi dinamika konflik global yang semakin kompleks.
Menurut Azis, perkembangan teknologi, keterhubungan ekonomi, serta meningkatnya kemampuan negara untuk saling melemahkan membuat konsep kemenangan absolut dalam konflik menjadi semakin sulit dicapai.
“Kekuatan masih penting, tetapi kemenangan kini semakin sulit didefinisikan,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Minggu (26/7/2026).
Ia menjelaskan, konflik modern tidak hanya berdampak pada pihak yang terlibat langsung, tetapi juga meluas ke berbagai negara melalui gangguan jalur perdagangan, serangan siber, penggunaan pesawat nirawak, hingga terganggunya rantai pasok global.
Azis menilai, keberhasilan militer dalam suatu konflik tidak selalu berbanding lurus dengan keuntungan strategis.
“Kemenangan militer bisa berubah menjadi kerugian ekonomi, dan keberhasilan taktis dapat berujung pada kerugian strategis,” katanya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya paradigma koeksistensi sebagai pendekatan baru dalam menjaga stabilitas global. Menurutnya, koeksistensi bukan berarti menghapus persaingan, melainkan mengelolanya agar tidak berujung pada kehancuran bersama.
“Koeksistensi adalah kesadaran bahwa keberlanjutan lebih penting daripada kemenangan sesaat,” ujarnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri RI, Sugiono, sebelumnya menegaskan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat multilateralisme di tengah kondisi dunia yang semakin terfragmentasi.
Ia menegaskan prinsip politik luar negeri bebas aktif tetap menjadi landasan Indonesia dalam menghadapi dinamika global.
“Bebas aktif bukan berarti pasif. Indonesia akan terus membangun jembatan dan memperluas ruang strategis demi menjaga perdamaian dan stabilitas dunia,” kata Sugiono.
Sumber : antara











































