
Jakarta, batamtv.com – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Cipinang terus memperkuat pembinaan spiritual sebagai bagian dari pembentukan karakter dan kesiapan warga binaan untuk kembali ke masyarakat. Momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H di Masjid Baiturrahman, Kamis (3/9), dimanfaatkan untuk menanamkan nilai keteladanan, pengendalian diri, tanggung jawab, dan semangat memperbaiki kehidupan.
Kepala Lapas Kelas I Cipinang, Dr. Syarpani, menegaskan pembinaan keagamaan tidak boleh berhenti pada kegiatan ritual, tetapi harus menghadirkan perubahan dalam cara berpikir dan bersikap.
“Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah. Masa lalu tidak dapat diulang, tetapi hari ini selalu memberi ruang untuk memilih langkah yang lebih baik. Keteladanan Rasulullah harus menjadi kekuatan untuk memperbaiki hati, sikap, dan tanggung jawab,” tegasnya.
Menurut Syarpani, pembinaan spiritual menjadi salah satu fondasi penting agar warga binaan tidak hanya kembali produktif, tetapi juga memiliki kesiapan mental dan karakter untuk menjalani kehidupan secara lebih bertanggung jawab.
Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan, Yudha Ageng CH, selaku pelaksana kegiatan, mengatakan ratusan warga binaan mengikuti kegiatan tersebut. Penampilan hadroh oleh warga binaan turut menjadi bagian dari pembinaan keagamaan yang dikembangkan secara berkelanjutan.
“Kami ingin pembinaan keagamaan tidak hanya diterima melalui ceramah, tetapi juga dijalani melalui aktivitas positif. Hadroh, pengajian, dan kegiatan keagamaan lainnya menjadi ruang untuk melatih kedisiplinan, kebersamaan, tanggung jawab, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri,” jelasnya.
Kegiatan mengangkat tema “Meneladani Akhlak Nabi Muhammad SAW, Menguatkan Hati, Menjemput Kehidupan yang Lebih Baik” dan diisi tausiah oleh K.H. Asep Abi Farhan, S.Pd.I., M.A. Dalam tausiah tersebut, jamaah diajak meneladani akhlak Rasulullah melalui penguatan iman, kesabaran, kepedulian, serta konsistensi memperbaiki diri dari hal-hal sederhana.
Bagi JHN, salah seorang warga binaan, pembinaan tersebut menjadi ruang untuk melihat kembali arah hidupnya.
“Yang paling terasa adalah kami diingatkan bahwa kesempatan memperbaiki diri masih ada. Bukan hanya menyesali masa lalu, tetapi bagaimana selama di sini kami belajar menjadi lebih baik dan mempersiapkan kehidupan setelah kembali ke keluarga,” ungkapnya.
Melalui pembinaan spiritual yang berkelanjutan, Lapas Cipinang mendorong agar nilai keagamaan tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran, karakter, dan bekal reintegrasi sosial bagi warga binaan. (red)









































