
Tel Aviv,batamtv.com, – Ribuan demonstran turun ke jalan di berbagai kota di Israel memprotes rencana pemerintah memperluas operasi militer di Gaza.
Aksi itu berlangsung usai kabinet keamanan Israel pada Jumat (8/8/2025) menyetujui lima prinsip untuk mengakhiri perang, termasuk mengambil alih kendali keamanan Jalur Gaza. Militer Israel menyatakan siap menguasai Kota Gaza, langkah yang memicu kekhawatiran keluarga sandera.
Dari 50 sandera Israel di Gaza, 20 di antaranya diyakini masih hidup. Mereka mendesak pemerintah memprioritaskan pembebasan sandera sebelum memperluas operasi militer. Kelompok yang mewakili keluarga sandera menuliskan di X, “Memperluas pertempuran membahayakan para sandera dan tentara hingga rakyat Israel tidak mau mengambil risiko!”
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak kritik tersebut. Ia menegaskan rencana itu justru bertujuan membebaskan sandera. “Kami tidak akan menduduki Gaza. Kami akan membebaskan Gaza dari Hamas. Ini akan membantu membebaskan sandera kami dan memastikan Gaza tidak menjadi ancaman bagi Israel di masa mendatang,” kata Netanyahu.
Seorang pengunjuk rasa di Yerusalem, Shakha, mengatakan kepada BBC bahwa keluarganya ingin perang segera berakhir. “Para sandera kami sekarat di sana, dan kami membutuhkan mereka semua pulang sekarang. Apa pun yang diperlukan untuk dilakukan, kami harus melakukannya. Jika perang harus dihentikan, kami akan menghentikannya,” ujarnya.
Di Yerusalem, mantan prajurit tempur Max Kresch juga ikut berdemo. Ia mengaku menolak kembali bertugas sejak awal perang. “Kami lebih dari 350 tentara yang menolak terlibat dalam perang politik Netanyahu yang membahayakan sandera dan membuat warga Palestina tak berdosa di Gaza kelaparan,” kata Kresch.
The Times of Israel melaporkan, keluarga sandera dan tentara menggelar aksi di Tel Aviv dekat markas Pasukan Pertahanan Israel (IDF), mendesak tentara lain menolak bertugas dalam operasi militer yang diperluas. Ibu salah satu sandera bahkan menyerukan pemogokan umum.
Pemimpin oposisi, Yair Lapid, menyebut langkah itu sebagai respons yang dibenarkan. Namun, serikat buruh utama Israel menolak mendukung pemogokan. Netanyahu juga dikabarkan mendapat peringatan keras dari Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Eyal Zamir.
Menurut media Israel, Zamir menilai pendudukan penuh Gaza bisa menjadi “perangkap” dan membahayakan nyawa sandera. Jajak pendapat menunjukkan mayoritas publik Israel mendukung kesepakatan dengan Hamas untuk membebaskan sandera dan mengakhiri perang.
Meski demikian, Netanyahu dalam wawancara dengan Fox News menyebut Israel akan menduduki seluruh Jalur Gaza dan kemudian menyerahkannya kepada pasukan Arab. Kabinet keamanan Israel menetapkan lima prinsip mengakhiri perang, yaitu melucuti senjata Hamas, memulangkan seluruh sandera, mendemiliterisasi Jalur Gaza, mengambil alih kendali keamanan, serta membentuk pemerintahan sipil baru yang bukan Hamas maupun Otoritas Palestina.
Seorang pejabat tinggi PBB memperingatkan, pengambilalihan penuh Kota Gaza oleh militer Israel berisiko menimbulkan konsekuensi bencana bagi warga sipil dan sandera. Sebelum perang, kota berpenduduk padat itu dihuni sekitar satu juta warga Palestina.
Langkah Israel menuai kritik dari Inggris, Perancis, Kanada, dan sejumlah negara lain. Jerman bahkan menghentikan ekspor senjata ke Israel sebagai bentuk protes. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan membahas rencana ini pada Minggu.
Badan-badan PBB mendesak Israel membuka akses lebih luas untuk bantuan kemanusiaan dan pangan, di tengah laporan meningkatnya kematian akibat kelaparan. Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas melaporkan lima orang, termasuk dua anak, meninggal dalam 24 jam terakhir akibat malnutrisi. Total korban tewas akibat kelaparan kini mencapai 217 orang, termasuk 100 anak.
Israel membantah adanya kelaparan di Gaza dan menyalahkan Hamas. Namun, pakar keamanan pangan yang didukung PBB menilai skenario terburuk kelaparan sudah terjadi pada Juli lalu. BBC dan media internasional lain tidak mendapat izin Israel untuk melaporkan secara independen dari Gaza. Dalam 24 jam terakhir, setidaknya 59 orang tewas dan 363 orang terluka akibat operasi militer Israel, termasuk 35 korban yang meninggal saat berusaha mendapatkan bantuan.
Penanggungjawab : Oktarian
Editor : Sofyan Atsauri
Sumber : Kompas.com









































